Wonderful Indonesia
 
Sabtu, 03 Desember 2016
 

 
Wonderful Indonesia
 

Menggalang Petani Muda Desa Sabuai

Bangga Menjadi Petani Padi

 
 
Persemaian benih padi telah siap dipindahkan ke lahan sawah. Dengan sistem semai seperti ini, satu hektare lahan sawah butuh 25 kg benih padi. Sebaliknya sistem manugal atau hambur, butuh 60 kg hingga 75 kg benih per hektare.

Persemaian benih padi telah siap dipindahkan ke lahan sawah. Dengan sistem semai seperti ini, satu hektare lahan sawah butuh 25 kg benih padi. Sebaliknya sistem manugal atau hambur, butuh 60 kg hingga 75 kg benih per hektare.

BorneoNews

“SAYA bangga menjadi anak Desa Sabuai.  Karena desa ini memiliki lahan pertanian yang  luas.  Warga desa menanam padi.  Sehingga orang tua kami tidak pernah membeli beras. Kami makan hasil panen sendiri..,” kata salah seorang pelajar SMK yang memperkenalkan diri sebagai anak muda Desa Sabuai, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).

Sebuah acara yang  dihadiri puluhan anak muda-remaja dari Desa Sabuai Barat dan Sabuai Timur itu riuh rendah.  Pernyataan salah seorang peserta tadi entah mengapa juga  diikuti yang lainnya.   Mereka umumnya mengaku bangga sebagai anak desa yang berada di pojok  pantai barat Kabupaten Kobar itu.

“Desa kami terpencil, tetapi aman dan tenteram. Karena kami tidak kekurangan makan.  Ada padi, ada ikan dan ada kelapa,” kata Siti tak kalah semangatnya.

Pemerintah Desa Sabuai mencatat, lahan pertanian yang menjadi milik warga desa Sabuai ada sekitar 745 hektare.  Angka itu belum termasuk milik perorarang  dari luar desa Sabuai, dan lahan (hasil atau bekas) kebakaran hutan produksi (HP) yang  kemudian ditanami warga. Jika ditotal, bentangan lahan yang kini diolah menjadi lahan pertanian pangan oleh warga mencapai 2.000-an kehtare.

Tetapi  sebagaimana dikemukakan Dr Edi Waluyo dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Konsolindo, yaitu sebuah lembaga yang menjadi konsultan Kementerian Pertanian,  luas lahan itu tidak sama dengan luas tanam.

Dicotohkannya, jika luas lahan mencapai 745 hektare,  fakta di lapangan luas  tanamnya  bisa jadi hanya  450-an hektare. Dan kemungkinan luas panennya hanya 300 haktare.   “Karena menanam dengan cara dihambur/ditebar, maka yang tumbuh tidak merata.  Apalagi setelah tumbuh, rumput tidak dibersihkan. Maka tanaman padi kalah dengan rumput. Panennya juga tidak maksimal,” kata Edi yang kini bergabung dengan PT Kalimantan Mitra Mandiri (KMM) itu.

Hendri,  salah seorang pemuda Sabuai mengaku bercita-cita menjadi pengusaha yang sukses. “Saya  ingin menjadi seorang pengusaha sukses,” kata anak muda yang belajar di Universitas Antakusuma (Untama) Pangkalan Bun itu.  Dan, tentu yang dimaksud adalah pengusaha yang sukses di bidang pertanian.  (*)

 

BERITA POPULER

 
INDEKS HJ. NURHIDAYAH

Facebook

 
UCAPAN SELAMAT LAINNYA

PRAKIRAAN CUACA

Sumber : BMKG

To Top