Wonderful Indonesia
 
Jumat, 09 Desember 2016
 

 
Wonderful Indonesia

Sampit Pesimistis Meraih Piala Adipura 2016

 
 
Sampah menumpuk di Jalan Kenan Sandan, Kecamatan Baamang, Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Pemerintah Kabupaten Kotim pesimistis dapat meraih piala Adipura 2016. BORNEO/RAFIUDIN

Sampah menumpuk di Jalan Kenan Sandan, Kecamatan Baamang, Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Pemerintah Kabupaten Kotim pesimistis dapat meraih piala Adipura 2016. BORNEO/RAFIUDIN

BorneoNews

BORNEONEWS, Sampit - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur pesimistis dapat meraih Piala Adipura 2016. Persoalan sampah dan semrawutnya Kota Sampit masih menjadi masalah besar bagi daerah itu untuk kembali meraih piala sebagai kota kecil terbersih itu.

“Kalau tahun ini kita dapat Adipura itu hanya bonus. Tapi kalau saya lihat tahun ini sulit mendapatkan Adipura,” kata Bupati Kotim Supian Hadi saat memberikan sambutan pada Forum Gabungan Perangkat Daerah membahas rancanangan rencana strategis perangkat daerah Kotim 2016-2021, di Aula Bappeda Kotim, Senin (23/5/2016).

Semasa kepemimpinan Supian Hadi dan Taufiq Mukri pada periode pertama, 2010-2015, Sampit berhasil tiga kali meraih Adipura. Kini Supian kembali terpilih menjadi bupati periode 2016-2021. Saat peraih Adipura diumumkan 23 November 2015, kebetulan saat pemerintahan periode pertama Supian Hadi telah berakhir, Sampit gagal mempertahankan Piala Adipura.

Dari pengamatan Supian Hadi, kinerja pasukan kebersihan (pasukan kuning) yang merupakan tenaga kontrak di bawah pengawasan Dinas Kebersihan Tata Kota dan Perumahan semakin menurun. Kebersihan di zona-zona yang merupakan tugas mereka dipertanyakan. 

“Saya lihat yang bersih hanya di di pinggir jalan tapi di trotoar kotor. Seperti di depan Kantor Pemda dan pagarnya tidak pernah dibersihkan.”

Melihat kondisi itu Supian Hadi meminta kepala SKPD terkait untuk tegas kepada bawahannya yang tidak mau bekerja. Bahkan dia memerintahkan memecat pasukan kuning yang lalai menjalankan tugas. Petugas kebersihan katanya sudah ditentukan zonanya masing-masing. Di zona itu akan menjadi tanggung jawab masing-masing.

“Kalau tidak bersih di lokasi mereka siap diberhentikan jadi tenaga kontrak. Itu seperti dilakukan pemerintah Kota Balikpapan, kalau di sana gajinya hanya Rp1,2 juta tapi mereka luar biasa kerjanya. Sementara kita di sini gaji Rp2 juta lebih kok Sampit masih kotor,” katanya.

Tanggung jawab kebersihan dan keindahan kota ini tambahnya adalah tanggung jawab dua SKPD, yakni Dinas Pekerjaan Umum dan Dispertasih. Dia menyindir kinerja dua SKPD itu yang tidak mampu mengatasi persoalan sampah, kebersihan dan keindahan Kota Sampit, terutama trotoar di Jalan HM Arsyad. Pasca dibongkar trotoar itu tampak kumuh dan sembrawut.  (RAFIUDIN/N).


 

BERITA POPULER

 
INDEKS HJ. NURHIDAYAH

Facebook

 
UCAPAN SELAMAT LAINNYA

PRAKIRAAN CUACA

Sumber : BMKG

To Top