Wonderful Indonesia
 
Sabtu, 10 Desember 2016
 

 
Wonderful Indonesia

Barut Lakukan Inovasi Pertanian

 
 
Kepala Distankannak Barito Utara, Setia Budi saat menanam padi menggunakan mesin tanam di Desa Trahean beberapa waktu lalu. BORNEO/RAMADANI

Kepala Distankannak Barito Utara, Setia Budi saat menanam padi menggunakan mesin tanam di Desa Trahean beberapa waktu lalu. BORNEO/RAMADANI

BorneoNews

BORNEONEWS, Barito Utara - Gerakan untuk penambahan perluasan dan peningkatan produksi padi, Distankannak berupaya melakukan inovasi pertanian. Para petani di Barut, khususnya padi ladang mencoba melakukan penanaman di musim tanam April-September, yang biasanya musim tanam Oktober- Maret.

"Kami akan melengkapi dengan sarana  pompanisasi, sehingga penanaman padinya tidak ketergantungan dengan kondisi alam," kata Kepala Distankannak Barito Utara, Setia Budi, Senin (23/5/2016).

Melalui program pusat, Kabupaten Barito Utara juga mendapatkan program ujicoba untuk penanaman padi organik menggunakan pupuk alam yang diharapkan dapat  berhasil dilakukan. Jika berhasil ini satu  langkah sinergi ke depan, akan dikembangkan pengelolaan sapi dengan sistem keloni. Limbah sapi akan dijadikan pupuk alam bagi padi organik

Distankannak juga mencanangkan untuk daerah-daerah budidaya sapi ini menanam padi organiki. “Distankannak merupakan  instansi teknis menjadikan pertanian  berenovasi pada produksi akan tetapi juga lebih jauh lagi berenovasi sebagai lapangan kerja,” imbuhnya.

Distankannak juga melakukan program perluasan sawah yang telah bersingkronisasi dengan pemerintah pusat bahwa percetakan sawah  yang ditargetkan akan dilakukan sampai akhir 2019 dengan target 12.000 hektare. Potensi kabupaten Barito Utara, sawah yang dapat digarap mencapai 14.000 hingga 16.000 hektare. Dengan perlusan sawah sebesar 12.00 hektare  ini dapat dilakukan, kabupaten Barito Utara tidak hanya akan swasembada beras, akan tetapi dapat menjadi surplus beras.

Kemudian Setia Budi berkeinginan, program ini dapat tercapai dengan pola pendekatan 1 KK dapat memiliki 2 hingga lima hektare cetak sawah. Ia mengakui mendapat lampu hijau dari pemerintah provinsi dan pemerintah pusat bahwa masyarakat boleh mandapatkan dua hingga lima hektare per kepala keluarga.

Pada 2016, Barito Utara juga mendapat alokasi penanaman jagung hibrida seluas 962 hektare dan kedelai seluas 306 hektare, namun untuk sementara pertanian kedelai difokuskan di Kecamatan Gunung Timang yakni di Desa Batu Raya I dan Batu Raya II. (DN/N).

 

BERITA POPULER

 
INDEKS HJ. NURHIDAYAH

Facebook

 
UCAPAN SELAMAT LAINNYA

PRAKIRAAN CUACA

Sumber : BMKG

To Top