Wonderful Indonesia
 
Sabtu, 03 Desember 2016
 

 
Wonderful Indonesia

Juni 2016 Bulan Paling Mengkhawatirkan bagi Investor

 
 
Ilustrasi pembangunan jembatan yang mendapat kunjungan Komisi IV DPRD Kotim. Juni 2016 disebut bulan paling mengkhawatirkan bagi kalangan investor. BORNEONEWS/DOK

Ilustrasi pembangunan jembatan yang mendapat kunjungan Komisi IV DPRD Kotim. Juni 2016 disebut bulan paling mengkhawatirkan bagi kalangan investor. BORNEONEWS/DOK

BorneoNews

BORNEONEWS, Tangerang - Bagi kalangan investor, Juni 2016 menjadi bulan paling mengkhawatirkan.Pasalnya, banyak keputusan penting yang akan diumumkan pada periode tersebut.

"Juni merupakan periode paling critical buat market," ungkap Leo Putra Rinaldy, ekonom Mandiri Sekuritas, seperti dikutip Detikcom dalam acara diskusi di Hotel Aryaduta, Lippo Karawaci, Tangerang, Sabtu (28/5/2016).

Pertama, terkait kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty oleh pemerintah yang diperkirakan Rancangan Undang-undang (RUU) selesai dibahas dengan DPR untuk kemudian disahkan. Pembahasan RUU ini sudah masuk tingkat lebih teknis. Seluruh fraksi DPR sepakat dengan kebijakan pengampunan pajak yang artinya besar kemungkinan rencana tersebut dapat terealisasi awal Juli 2016.

Kedua, terkait keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) soal kenaikan suku bunga. Ada kecenderungan suku bunga AS kembali naik pada Juni mendatang. Kenaikan suku bunga dapat mendorong terjadinya capital outflows pada pasar keuangan dalam negeri. Sehingga membuat pelemahan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Ekonom Bank Permata Joshua Pardede menambahkan, hal lain yang menjadi perhatian, kondisi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Sejauh ini masih cukup terkendali seiring dengan impor yang masih lemah. Neraca barang terlihat surplus karena impor turun, lebih rendah dibanding ekspor. Neraca barang ekspektasinya tahun ini masih positif, tapi defisit neraca jasa dan neraca pendapatan primer cenderung meningkat.

Joshua juga menunjuk inflasi, yang menurutnya, masih cukup terkendali. Walaupun akan ada kenaikan inflasi pada Ramadan, namun hingga akhir tahun diperkirakan masih sesuai asumsi pemerintah 4 plus minus 1%. (*/N).


 

BERITA POPULER

 
INDEKS HJ. NURHIDAYAH

Facebook

 
UCAPAN SELAMAT LAINNYA

PRAKIRAAN CUACA

Sumber : BMKG

To Top