Kamis, 24 Agustus 2017
 

 
 

LAHAN GAMBUT

Jangan ‘Lagi’ Buat Kanal Baru di Kalimantan Tengah

 
 
Kepala BRG Nazir Foead saat buat bloking/sekat kanal di Tanjung Taruna Pulang Pisau, Senin (19/12/2016) siang. BORNEONEWS/ROZIKIN

Kepala BRG Nazir Foead saat buat bloking/sekat kanal di Tanjung Taruna Pulang Pisau, Senin (19/12/2016) siang. BORNEONEWS/ROZIKIN

Borneonews

BORNEONEWS, Palangka Raya-  Kepala Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) RI Nazir Foead meminta agar jangan ada lagi pembukaan atau pembuatan kanal baru di lahan gambut di Kalimantan Tengah (Kalteng). Hal ini diungkapkan ketika ia mengunjungi Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng, Senin (19/12/2016).

Menjadi keprihatinan pihaknya karena Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng hingga akhir tahun ini banyak membuat sejumlah kanal baru di beberapa lokasi seperti di Kalampangan, Palangka Raya, dan di Desa Gohong, Pulang Pisau. Hal itu tentu bertentangan dengan prinsip kerja BRG yang selama ini berupaya menyekat kanal untuk membasahi gambut.

“Kawasan gambut yang ada jangan sampai ada lagi buka kanal baru. Justru yang ada saat ini harus ditutup. Harus disekat dengan blocking kanal agar ketinggian air bisa terus terjaga,” tegasnya.

Gambut yang terkanalisasi, justru membuat gambut cepat kering karena air cepat turun menuju kanal. Padahal, gambut seharusnya terus tetap terjaga basah agar tidak mudah terbakar ketika ketika musim kemarau. Tapi ternyata, ada sejumlah proyek pemerintah yang bahkan tak jauh dari jalan raya malah membuka jalur kanal dari kawasan gambut.

“Kami memang mendapatkan laporan terkait ini, dan kami sudah surati pemerintah provinsi dan pemerintah daerah dimana ada lokasi proyek, untuk segera berhenti membangun kanal. Ini masalah kordinasi yang belum bagus dan karena itu juga akan terus memperbaiki koordinasi,” lanjutnya.

Untuk merestorasi gambut, BRG memiliki tiga tahap yakni pembasahan gambut, revegetasi, dan revitalisasi. Di Pulang Pisau, untuk tahapan pembasahan gambut, BRG baru membangun 33 sekat kanal atau tabat dan 210 sumur bor pada tahun ini dari ratusan terget yang diharapkan.

BRG belum mengetahui berapa kebutuhan sumur bor dan sekat kanal untuk pembasahan lahan gambut secara idealnya, karena pihaknya menilai masih harus disesuaikan dengan peta restorasiyang kini sedang dikebut untuk menentukan titik pastinya.

Deputi II Bidang Konstruksi, Operasional, dan Perawatan BRG Alue Dohong mengatakan, selain uji coba pembasahan lahan gambut. pihaknya juga sudah memulai pendampingan dan pelatihan pembibitan di Desa Garung, Pulang Pisau. Sedangkan untuk program revitalisasi mata pencaharian, pihaknya sudah mulai membentuk kelompok usaha di bidang peternakan sapi di Desa Taruna, Pulang Pisau.

"Untuk pembibitan kami gunakan jenis tanaman lokal yang ramah gambut, sedangkan untuk revitalisasi mata pencaharian kami mencari alternatif seperti sapi. Hijauan tanaman kami gunakan jenis tanaman banyak ditemukan di sungai di sekitar. Kita terus dampingi masyarakat, saat ini ada 25 KK yang mendapat bibit sapi bali,” terangnya.

Dari pantauan Borneonews, sekitar 20 kilometer dari Kota Palangka Raya, tepatnya di Kelurahan Kalampangan dan Kameloh Baru, Kecamatan Sebangau, Palangka Raya, terdapat sedikitnya tiga kanal baru. Sedangkan di Pulang Pisau, tepatnya di Kilometer 83 jalan trans Kalimantan terdapat beberapa kanal baru yang dibangun. 

“Target memang belum terlaksana, sampai akhir tahun ini kami lebih menitikberatkan pada perencanaan dan uji coba, termasuk serap aspirasi masyarakat dan evaluasi program yang ada sekarang untuk diperbaiki 2017. Nanti bakal banyak lagi program dan anggaran yang dikucurkan dari APBN maupun lembaga donor,” timpal Foead menimpali. (ROZIKIN/m)


BERITA POPULER

Pembakaran Sekolah

Facebook

 
UCAPAN SELAMAT LAINNYA
To Top