Selasa, 22 Agustus 2017
 

 
 

Citra Borneo Indah Group

Hilirisasi Industri Sawit CBI Group dari Tempenek

 
 
Head of Downstream Project CBI Group Rudy Ferdinand Bokslag

Head of Downstream Project CBI Group Rudy Ferdinand Bokslag

Borneonews / Nazir Amin

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Jaringan bisnis Haji Abdul Rasyid AS serius menyelesaikan proyek hilirisasi industri sawit di Tempenek, Kecamatan Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Pembangunan Kawasan Industri Surya Borneo Industri (SBI), itu digenjot sejak 2014. Proyek downstream itu, memantapkan langkah pemilik CBI Group dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk ini, memasuki industri sawit dari hulu ke hilir.  

"Ini sejalan dengan anjuran pemerintah, agar kita mulai dengan hilirisasi industri, tidak lagi menjual barang setengah jadi, apalagi bahan mentah. Kita tak boleh lagi mengandalkan penjualan CPO, harus masuk industri bernilai jual tinggi," kata Ramzi Sastra, Direktur Komersial PT Surya Borneo Industri, pengelola Kawasan Industri SBI, kepada Borneonews, yang menghubunginya, Jumat (19/5/2017). 

Jadi, konglomerasi H Abdul Rasyid AS itu, bakal tidak lagi bertumpu pada penjualan minyak kelapa sawit, seperti yang dilakoni sejak puluhan tahun lalu. Pemilik Citra Borneo Indah (CBI) Group dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS)., itu memantapkan langkah menggarap industri hilir, memproduksi berbagai barang industri dari turunan Crude Palm Oil (CPO), yang bernilai jual tinggi untuk ekspor. 

"Karena nilai jualnya tinggi, dengan menyasar pasar ekspor, income lebih besar, dan kesempatan kerja untuk terus mengurangi angka pengangguran, lebih terbuka. Pemasukan untuk negara juga lebih besar," katanya.

Head of Downstream Project CBI Group Rudy Ferdinand Bokslag menyebutkan, dalam Kawasan Industri CBI Group di Tempenek itu, sedikitnya ada empat perusahaan: PT Surya Borneo Industri (SBI), sebagai pemilik areal industri seluas 100 hektare itu.

Lalu, PT Citra Borneo Utama (CBU), yang kelak memproduksi minyak goreng (olein) dan stearin. Produk Biodiesel dan Glycerin nanti melalui PT Citra Borneo Energy (CBE), dan PT Citra Borneo Chemical (CBC), menghasilkan fetty acids, fatty alcohol dan produk oleo chemical lainnya. 

"Secara bertahap akhir 2017, minyak goreng kemasan sudah bisa diproduksi, dan awal 2018 sudah memasuki fase produksi secara komersial, yang berarti siap memasuki pasar ekspor," kata pemegang dua gelar Master dari dua negara, Belanda dan Inggris tersebut.

Hilirisasi Industri

Seperti diketahui Pemerintah meminta industri pengolahan minyak sawit dalam negeri menghasilkan produk hilir yang bernilai tambah tinggi sesuai kebutuhan pasar domestik dan ekspor. Untuk itu, diperlukan peningkatan kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi manufaktur terbaru agar lebih berdaya saing.

“Pertumbuhan industri hilir yang tangguh dan berkelanjutan itu karena ditopang inovasi teknologi atau rekayasa produk baru, baik yang mengandalkan kemampuan riset mandiri maupun kolaborasi dengan lembaga riset internasional,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ketika mengunjungi PT. Musim Mas di Kawasan Industri Medan, Sumatera Utara, Kamis (23/2/2017).

Dalam rilisnya, Menperin mengungkapkan, Pemerintah telah menetapkan Kebijakan Nasional Hilirisasi Industri Kelapa Sawit. Politisi Partai Golkar ini menjamin pemerintah senantiasa konsisten menumbuhkan industri pengolahan kelapa sawit di dalam negeri. Intinya, kata dia, pemerintah berkomitmen menyusun dan menerapkan kebijakan pro-pertumbuhan industri hilir kelapa sawit, sehingga investasi baru serta perluasan di bidang industri hilir dapat terus berjalan.

Kemenperin telah mengarahkan pertumbuhan industri pengolahan minyak sawit untuk menghasilkan aneka produk hilir canggih, di antaranya super edible oil, golden nutrition, bio plastic, bio surfactant, hingga green fuel. Dalam jangka menengah, kata dia, pihaknya memprioritaskan upaya peningkatan investasi industri pengolahan sawit untuk mengantisipasi pertumbuhan jumlah produksi bahan baku yang diharapkan mencapai 40 juta ton CPO pada 2020.

Menurut Menteri Airlangga, industri perkelapasawitan dari hulu sampai hilir merupakan salah satu sektor strategis yang memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Itu bisa dicapai, antara lain melalui kinerja nilai ekspor, penyerapan tenaga kerja, pemerataan kesejahteraan masyarakat, dan kontribusi pada penerimaan negara.

Mengutip data BPS sampai September 2016, Kemenperin mencatat nilai ekspor produk hilir sawit sebesar US$13.3 miliar, melebihi nilai ekspor minyak dan gas bumi. Kata Airlangga Hartarto, dari produk hilir mencapai 54 jenis, secara rata-rata tahunan, sektor industri kelapa sawit hulu-hilir menyumbang US$20 miliar pada devisa negara.

”Sedangkan, khusus bagi pendapatan bukan pajak, sektor perkelapasawitan menyumbang Rp12 triliun per tahun, yang dipungut atas ekspornya dalam bentuk dana perkebunan dan bea keluar," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (NAZIR AMIN/B-2).

BERITA POPULER

Facebook

 
UCAPAN SELAMAT LAINNYA
To Top