Senin, 24 Juli 2017
 

 
 

PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk

Kampanye Antisawit Bagian dari Perang Dagang

 
 
Direktur Utama PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), Vallauthan Subraminam

Direktur Utama PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), Vallauthan Subraminam

Borneonews / Nazir Amin

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kampanye antisawit terus marak di dunia internasional. Meski begitu, Direktur Utama PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), Vallauthan Subraminam berkeyakinan, langkah negatif para pesaing itu, tidak bakal berpengaruh besar. Pasalnya, isunya bohong, tak bisa dipertanggungjawabkan, dan lebih banyak didasari perang dagang, melibatkan kekuatan LSM.

"Kampanye antisawit itu, isunya tak faktual, tidak sesuai kenyataan di lapangan. Ini perang dagang yang diprovokasi oleh produsen minyak nabati lain, menggunakan LSM asing untuk menjelekkan sawit tanpa dasar dan fakta," kata Vallauthan Subraminam kepada Borneonews, Senin (17/7/2017).

Pria yang bergabung dengan PT SSMS Tbk, sejak 2007 itu, menunjuk artikel The Dilemma of Palm Oil (and What You Can Do), oleh Robin Raven, 13 Juli 2017, sebagai salah satu kampanye massif itu. Artikel dalam www.plantbasednews.org itu, menyerang produk turunan sawit, yang telah hadir dalam berbagai barang konsumsi masyarakat dunia.

Selain karena mengandung ketidakakuratan, Vallauthan berpandangan beragam produk turunan crude palm oil (CPO), sudah menjadi barang konsumsi masyarakat internasioanl. Karena telah menjadi kebutuhan di berbagai belahan dunia, lulusan Institut Supervisiory Management di Inggris tersebut, berkeyakinan kampanye miring tak lagi sepenuhnya efektif.

"Faktanya, berbagai turunan produk CPO, sudah dikonsumsi masyarakat dunia sejak lama. Minyak kelapa sawit dengan berbagai produk industrinya sudah menjadi kebutuhan sehari-hari di seluruh dunia, tidak mungkin lagi dilawan," kata pria yang karib disapa Pak Valla itu.

Di luar itu, menurut Pak Valla, pengelolaan perkebunan, dan industri kelapa sawit, sudah sesuai aturan, dan kaidah yang ada. Ia mencontohkan, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk, dan jaringan Citra Borneo Indah (CBI) Group milik pengusaha Haji Abdul Rasyid, telah menerapkan bisnis perkebunan berkelanjutan. 

"Sebagai bentuk kepatuhan, dan ketaatan mengikuti aturan, kami sudah menerapkan standar Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), ISPO, dan ISO yang berlaku di komunitas internasional," kata Vallauthan Subraminam beberapa waktu lalu.

Forum Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) didirikan tahun 2004 oleh para pemangku kepentingan sawit. Ini respon dari tantangan industri sawit, lewat kewajiban pemberlakuan minyak sawit berkelanjutan yang dimulai dari pasar Eropa. Pemberlakuan 100 persen minyak sawit berkelanjutan itu, bermula di Belanda, diikuti Belgia, Inggris, Perancis dan Jerman. Standar dari Eropa itu, kemudian menjadi standard umum yang harus diterima komunitas internasional.

Sangat efisien

Vallauthan Subraminam melihat, salah satu penyebab munculnya kampanye antisawit, karena produsen minyak nabati lainnya (kedelai, bunga matahari, rapeseed)tak mampu bersaing sehat. Ia menyebutkan, Sawit adalah minyak nabati yang hasilnya paling tinggi per hektare. Ini yang membuat minyak nabati lain tidak dapat menandinginya, terutama dari segi cost. 

Kepada pers, di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/4/2017), Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Joko Supriyono, mengungkapkan, Perkebunan kelapa sawit sangat efisien.

Joko menuturkan, minyak nabati dari rapeseed, minyak kedelai, dan biji bunga matahari, membutuhkan lahan lebih luas untuk produksinya. Itu artinya, alih fungsi hutan bisa lebih masif jika sawit kemudian digantikan minyak nabati lain tersebut. Ia menyebutkan, jika asumsi angka kebutuhan produksi minyak nabati pada 2025 sebanyak 5 juta ton per tahun, kalau dari rapeseed saja, perlu lahan baru 51,6 juta hektare.

Bandingkan dengan efisiennya minyak sawit. Produktivitas minyak sawit per tahun per hektare sebesar 4,2 ton. Itu sangat jauh mengungguli produktivitas minyak nabati lainnya.ihat saja. Dari rapeseed, hanya 0,6 ton per hektare, minyak biji bunga matahari 0,5 ton per hektare, dan minyak kedelai 0,4 ton per hektare. 

Mengutip data Gapki, tentang luas areal 4 tanaman penghasil minyak nabati utama dunia (kelapa sawit, kedelai, bunga matahari dan rapeseed) pada 2013, mencapai 191 juta hektare. Dari luasan itu, 58 persen atau 110 juta Ha, areal kebun kedelai. Areal perkebunan kelapa sawit hanya 10 persen.

Dari segi produksi minyak, dengan areal 110 juta Ha itu, kedelai hanya menghasilkan 47 juta ton atau hanya 31 persen dari produksi 4 minyak nabati utama dunia. Bandingkan dengan kelapa sawit dengan area seluas 19 juta hektare mampu menghasilkan minyak 62 juta ton atau 41 persen dari produksi 4 minyak nabati utama dunia.

Data itu jelas menunjukkan, produktivitas minyak kelapa sawit per hektare lahan jauh lebih tinggi, sampai 8-10 kali lipat dibanding produktivitas minyak nabati lainnya. Artinya, dengan lahan yangjauhlebih sedikit, kelapa sawit mampu menghasilkan minyak nabati yang lebih besar.  (NAZIR AMIN/B-2).

BERITA POPULER

Silaturahim

Facebook

 
UCAPAN SELAMAT LAINNYA
To Top