Headline News
Minggu, Puncak Arus Balik Lebaran - Kamis, 31 Juli 2014 10:19
Abraham Diminta Fokus Di KPK - Kamis, 31 Juli 2014 09:44
Bakal Sia-Sia Gugatan Prabowo - Kamis, 31 Juli 2014 09:43

SENGKARUT TANAH ADAT (14) : Demang Persilakan Tanya Pangeran Arsyadinsyah

  • Kamis, Mar 06 2014
  • font size decrease font size increase font size

SALINAN surat pernyataan Demang Kepala Adat Kecamatan Kotawaringin Lama (Kolam), Hobat Luncat sampai ke redaksi Borneonews. Dalam surat bermaterai Rp6 ribu itu, tertulis jelas sang Demang memastikan tidak pernah menandatangani maupun mengeluarkan Surat Keterangan Tanah (SKT) Adat di Pangkalan Bun-Kolam.

Intinya, Demang Kepala Adat Kolam, Hobat Luncat, 15 November 2013, tidak pernah menandatangani maupun mengeluarkan SKT Adat. Itu artinya, sang Demang mengingkari penerbitan ratusan SKT Adat, yang sebelumnya diberikan kepada warga RT 01 dan RT 02 Kelurahan Kotawaringin Hilir. SKT Adat yang sama juga dipegang sejumlah warga Pangkalan Bun, Kobar. Kepada Borneonews, yang menghubunginya dua kali, terakhir Senin (3/3), Hobat menyatakan, tidak pernah membuat pernyataan tidak akan menerbitkan SKT Adat. “Tidak ada yang seperti itu. Untuk lebih jelasnya tanya Pangeran Arsyadinsyah saja.”
Hobat juga bersikukuh, keputusannya menandatangani SKT Adat itu karena warga berjanji bertanggung jawab. Ia menyebutkan, ada MoU kesepakatannya dengan warga RT 01 dan RT 02 Kelurahan Kotawaringin Hilir, sehingga membuatnya berani menerbitkan SKT Adat itu.
SKT Adat itu diterbitkan atas pernyataan hibah atas tanah di Kelurahan Kotawaringin Hilir dari kerabat Kesultanan Kuta­ringin, Pangeran Arsyadinsyah. Posisi Pangeran Arsyadinsyah, sebagai pemberi hibah atas tanah yang diakui sebagai warisan dari Kesultanan Kutaringin.
“Niatnya (menghibahkan) untuk kesejahteraan masyarakat Kolam sekaligus memanjangkan amal leluhur kesultanan,” ujar Pangeran Arsyadinsyah saat ditemui di kediamannya, di Pangkalan Bun, Senin (24/2) malam.
Pangeran Arsyadinsyah menyebutkan, hibah itu khusus untuk warga Kolam. Dia menekankan, tanah yang dihibahkan itu tak boleh diperjualbelikan. “Sifatnya kepusakaan turun-temurun.” (Raden Ariyo/B-1).

 

 

 

Read 121 times
Rate this item
(0 votes)
Published in Head

Leave a comment

Oase