|
Selasa, 30 November 2010 09:52 |
ShareKOTAWARINGIN TIMUR--BN: SEBUAH Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kedapatan menyediakan tempat khusus bagi para pelangsir solar yang menggunakan jeriken. Hal itu terungkap saat...
aparat dari Kepolisian Resor (Polres) Kotim menggelar razia terhadap sejumlah SPBU di Sampit, kemarin. SPBU yang menyediakan tempat khusus bagi para pelangsir itu adalah SPBU Nur Ain yang terletak di Jalan Tjilik Riwut, Kecamatan Baamang. Di SPBU tersebut ditemukan 15 pelangsir yang menggunakan sepeda motor dengan membawa jeriken tengah menunggu giliran mengisi solar di gudang belakang SPBU. Selain itu, ditemukan juga puluhan jeriken ukuran 35 liter disembunyikan di halaman belakang SPBU tersebut. Saat polisi tiba di tempat tersebut, para pelangsir terlihat terkejut. Beberapa di antara mereka bahkan tidak mengakui bahwa jeriken yang ada di tempat tersebut adalah miliknya. Di SPBU tersebut juga ditemukan sebuah mobil kijang merah bernomor polisi DA 7727 AG yang di dalamnya terdapat belasan jeriken berukuruan 35 liter. Mobil tersebut juga diparkir di bagian belakang SPBU berdekatan dengan belasan motor yang membawa jeriken. Dari razia di SPBU Nur Ain, Polres Kotim berhasil mengamankan sekitar 150 jeriken dimana 59 di antaranya berisi penuh Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar. Seluruh jeriken beserta isinya tersebut kini diamankan di Mapolres Kotim. Sedangkan para pemiliknya kemudian dicatat dan dilepaskan. Polres Kotim mengatakan ada indikasi para pemilik motor yang membawa jeriken berisi solar itu akan menjualnya ke perkebunan kelapa sawit. "Para pelangsir inilah yang menyebabkan terjadinya antrean panjang di SPBU. Jika dikumpulkan, isi jeriken yang ada saat ini bisa menampung BBM untuk satu mobil tangki milik Pertamina,” ujar seorang oetugas yang ambil bagian dalam razia tersebut. “Jika mereka beralasan akan menjual BBM ini secara eceran agak aneh. Pasalnya, di kecamatan sudah ada Agen Premium, Minyak, dan Solar (APMS). Kasihan pemilik kendaraan yang benar-benar butuh solar. Mereka tidak bisa mendapatkan solar karena diborong para pelangsir tersebut," imbuh petugas tersebut. Para pemilik jeriken itu memang beralasan akan menjual BBM yang mereka beli di daerah pedalaman. "Kalau di APMS harganya sudah melambung tinggi. Karenanya, kami rela membeli SPBU yang letaknya puluhan kilometer dari desa kami," kata seorang pelangsir yang menolak disebutkan namanya. Adapun Pengelola SPBU Nur Ain Aminullah membantah SPBU tersebut menyediakan tempat khusus bagi para pelangsir. "Kami tidak membeda-bedakan dalam melayani masyarakat yang membutuhkan BBM. Saya tidak tahu mengenai keberadaan para pelangsir yang berada di belakang SPBU ini," kilah Aminullah.
SPBU Pelita Aparat dari Polres Kotim kemudian melanjutkan razia ke SPBU di Jalan Pelita. Saat tiba di tempat tersebut, antrean kendaraan yang semula panjang tiba-tiba berkurang. "Kemungkinan mereka adalah para pelangsir. Jadi saat mereka melihat polisi langsung melarikan diri," kata Rida, warga yang tinggal di dekat SPBU tersebut. Di SPBU tersebut, aparat menemukan sebuah truk yang menyimpan empat jeriken berukuran 35 liter. Keempat jeriken tersebut disembunyikan di bak truk. Supir truk tersebut ditegur kemudian dilepaskan sedangkan keempat jeriken tersebut diamankan polisi. Manajer SPBU Pelita Abdul Gaffar menegaskan dirinya sudah berulang kali menegur mereka yang mengisi BBM dengan menggunakan jeriken sesuai dengan instruksi dari Pertamina Sampit. "Beberapa orang tidak bisa dinasehati secara verbal. Akhirnya kami terpaksa merusak jeriken yang mereka bawa. Karena merasa salah, mereka umumnya tidak melawan," aku Gaffar. Gaffar berharap aparat kepolisian serta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim bertindak tegas terhadap para pelangsir yang menyebabkan terjadinya antrean panjang di sejumlah SPBU di Kota Sampit tersebut. "Jika polisi bisa menggelar razia semacam ini secara rutin, saya yakin antrean panjang akibat ulah para pelangsir di Kota Sampit tidak akan terjadi lagi," pungkas Gaffar. (B-2)
|