|
MINIMNYA jumlah perajin rotan ternyata menjadi salah satu penghambat ekspor rotan ke pasaran dunia. Pasalnya, konsumen mancanegara hanya mau membeli rotan yang sudah dalam bentuk kerajinan, terutama produk furnitur. Karena itu, meski Indonesia memiliki 2,3 juta petani rotan, dan Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, ditetapkan sebagai daerah sentra unggulan rotan, hal itu tidak akan berdampak banyak selagi jumlah perajin rotan masih minim. "Kita tak bisa ekspor rotan asalan karena memang tak bagus. Tidak laku kalau diekspor dalam bentuk mentahan, harus dianyam menjadi sebuah kerajinan, baru bisa kita ekspor. Konsumen mancanegara lebih memilih rotan yang sudah dianyam, terutama furnitur," papar Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan di Kementerian Perdagangan Yamanah di sela-sela Seminar Rotan Indonesia di Jakarta, kemarin. Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan di Kementerian Kehutanan Hadi Daryanto menambahkan, kecilnya jumlah ekspor rotan Indonesia bukan karena adanya regulasi pemerintah yang tidak mendukung sektor itu. Kecilnya nilai ekspor rotan, sambungnya, semata-mata karena jumlah produk barang jadinya juga kecil. Sementara di kalangan petani, mereka lebih sering mendesak agar pemerintah ikut membantu membuka keran ekspor di luar negeri. "Kita sudah mendapatkan apa maunya konsumen luar negeri, dan mereka maunya rotan yang sudah dalam bentuk jadi, bukan asalan atau setengah jadi. Nah sementara jumlah perajin rotan masih minim, petani kita minta rotannya segera laku terjual. Pertanyaannya, siapa yang mau beli rotan yang belum jadi apa-apa?" ujarnya. Sementara berdasarkan pengamatan Borneonews kemarin, meski Katingan dikenal sebagai sentra penghasil rotan terbesar di Kalteng, jumlah perajin di kabupaten itu dapat dihitung dengan jari. Karena itu, meski kebanjiran pesanan, tidak semua order itu dapat terlayani karena minimnya kemampuan produksi. Di Kota Kasongan, Ibu Kota Katingan, baru ada satu orang perajin rotan yang membuka usahanya di sekitar Jembatan Kasongan. Sementara Pemkab Katingan sejauh ini juga sudah bekerja sama dengan perusahaan daerah PT Katingan Jaya Mandiri guna mengembangkan produk rotan setengah jadi maupun berupa kerajinan tangan. Sejak awal tahun ini, Pemkab juga sudah mendatangkan tenaga ahli dari Cirebon (Jabar) guna melatih tenaga lokal di pusat industri rotan di Desa Hampangen, Kecamatan Katingan Hilir. Bupati Katingan Duwel Rawing sempat mengaku prihatin karena daerahnya hanya mampu menghasilkan rotan mentah yang jumlah mencapai puluhan ton setiap bulannya. "Ke depan, kita berharap rotan asal Katingan yang dijual keluar daerah sudah tidak lagi berupa rotan mentah, namun menjadi rotan setengah jadi atau kerajinan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Ini harus diwujudkan jika kita ingin maju," katanya. (Ant/P-2)
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
|