Waduh, Lahan Gambut di Desa Sungai Cabang Masih Terbakar

  • Oleh Wahyu Krida
  • 09 Agustus 2018 - 12:20 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga kini masih terjadi di kawasan Desa Sungai Cabang, Kecamatan Kumai sekitar 2 km sebelah selatan diluar Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).

Field Director Orangutan Foundation International (OFI) Fajar Dewanto, Kamis (9/8/2018) menjelaskan sekitar 2 blok lahan dengan status Areal Penggunaan Lain (APL) dengan luasan sekitar 2 km x 600 meter di Desa Sungai Cabang dekat dengan sebuah perkebunan kelapa sawit di desa tersebut.

"Sekitar tanggal 4 Agustus lalu kami 15 orang yang terdiri dari staf Balai TNTP, rekan dari Friends of National Parks Foundation (FNPF) mendatangi lokasi untuk melakukan pemadaman lahan yang terbakar itu," jelas Fajar.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam menggunakan kelotok menyusur pantai melalui jalur laut, mereka berhasil datang ke lokasi karhutla dan mulai melakukan pemadaman.

"Salah satu kendala dalam pemadaman karhutla ini adalah kondisi gambut yang cukup tebal yaitu lebih dari 2 meter. Kemarin kami melakukan pemadaman dengan peralatan sederhana, salah satunya adalah jet shooter.  Walau demikian meskipun dipermukaan api terlihat padam, namun dibawah tanah dilapisan gambut, bara api masih tetap ada," jelas Fajar.

Ia juga menyesalkan sikap pihak perkebunan sawit yang berada didekat lokasi karhutla, yang terkesan hanya mengamankan wilayah kebunnya saja.

"Memang lokasi yang terbakar diluar wilayah kebun mereka. Namun jaraknya masih dekat dari perkebunan tersebut. Padahal mereka mempunyai peralatan yang cukup untuk memberikan bantuan pemadaman api. Hanya lahan di perkebunan mereka saja yang diamankan oleh mereka, diluar itu mereka terkesan tidak peduli," jelas Fajar.

Selain itu, menurut Fajar, walaupun bantuan waterbombing juga diberikan oleh pemerintah untuk memadamkan lahan, namun dengan kondisi lahan gambut tersebut rupanya pengeboman air tidak mengenai langsung titik lahan yang terbakar.

"Memang diakui bahwa waterbombing sangat membantu untuk pemadalam karhutla. Namun agar operasi pengeboman air bisa efektif dan tepat sasaran, diharapkan ada tim khusus waterbombing yang langsung berada di darat, untuk menentukan titik jatuh bom air tersebut," jelas Fajar.

Saat ini, lanjut Fajar, pihaknya sedang melakukan koordinasi terlebih dahulu dan akan kembali lagi ke lokasi karhuta dalam waktu dekat.

Berita Terbaru