Manajemen Reproduksi Harus Diterapkan Sebelum Inseminasi Buatan

  • Oleh Norhasanah
  • 10 Agustus 2018 - 22:40 WIB

BORNEONEWS, Sukamara- Kepala Bidang Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sukamara Syamsir Hidayat, mengatakan bahwa sebelum melakukan inseminasi buatan (IB) atau kawin suntik terhadap sapi, harus diterapkan sistem manajemen reproduksi agar program itu bisa sukses.

"Sebelum pelaksanaan IB ternak, terlebih dulu dilakukan pemeriksaan status reproduksi dan gangrep yang terjadwal, serentak, dan terintegrasi," ucap Syamsir Hidayat, Jumat (10/8/2018).

Ia melanjutkan, ternak yang tidak bunting dengan status reproduksi normal ditetapkan sebagai akseptor IB. Sedangkan yang tidak bunting mengalami gangrep ditetapkan sebagai target gangrep.

"Hasil pemeriksaan ini kemudian direkomendasikan kepada medik reproduksi sebagai dasar Surat Keterangan Status Reproduksi (SKSR). Target gangrep yang bisa disembuhkan (fausta) direkomendasikan sebagai akseptor," ujarnya.

Ditambahkannya, pemeriksaan kabuntingan hasil IB atau kawin suntik dilakukan paling cepat dua bulan. Bila terjadi kebuntingan, segera dilakukan rekording, dan direkomendasikan untuk menjamin kebuntingan sampai melahirkan.

"Bila sapi tidak bunting dilakukan pemeriksaan lanjutan," kata Syamsir Hidayat. (NORHASANAH/B-3)

Berita Terbaru