2019 Ganti Presiden Adalah Kalimat Merusak

  • Oleh Rahmat Gazali
  • 13 September 2018 - 10:46 WIB

BORNEONEWS, Palangka Raya - Maraknya kata '2019 ganti presiden' membuat orang nomor 1 di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Sugianto Sabran menjadi gerah. Gubernur muda tersebut menilai, slogan '2019 ganti presiden' tidak ada etika politik dan sangat merusak mental masyarakat.

"Kita banyak melahirkan orang pintar, namun sayangnya banyak yang tidak mempunyai akhlak, seperti contoh kita menuju Pilpres 2019, kalau orang Dayak diminta ganti budayanya, kira-kira mau atau tidak," ujarnya, Rabu (13/9/2018).

"Pasti orang Dayak mengamuk, jadi saya harapkan di Kalteng ini tidak ada slogan ganti Kades, ganti RT atau ganti yang sejenisnya karena itu merusak mental," lanjutnya.

Dia menjelaskan, kata 'ganti' adalah kalimat merusak karena sesuatu yang diganti berarti jelek atau tidak baik.

Dia mengingatkan kepada tokoh masyarakat, tokoh agama dan pelaku elit politik untuk tidak ikut terbuai hiruk pikuk nuansa politik 2019.

"Gunakan hak pilih kita dengan benar, pilih pemimpin yang tidak haus kekuasaan, nanti presiden itu ditentukan, apakah diganti atau tidak setelah selesai pencoblosan," tambahnya. (GAZALI/B-2)

Berita Terbaru