Pelemahan Ekspor CPO Berlanjut, India Buka Peluang Besar 

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 09 November 2018 - 10:56 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Tren pelemahan ekspor minyak sawit masih berlanjut, seiring dengan penurunan daya beli sejumlah negara pengimpor utama.

Dari data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyebutkan ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya pada September 2018 hanya mencapai 3,2 juta ton, turun 3% dari bulan sebelumnya.

"Rendahnya harga CPO global tidak berhasil menjadi magnet yang kuat kepada negara pengimpor karena harga minyak nabati lain juga sedang murah, terutama minyak rape, kedelai, dan biji bunga matahari," kata Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (9/11).

Volume ekspor CPO dan produk turunannya tidak termasuk oleokimia dan biosolar pada September 2018, menurut Mukti, hanya mencapai 2,99 juta ton atau stagnan dengan kecenderungan menurun dari bulan sebelumnya.

"Secara kumulatif tahunan, kinerja ekspor CPO dan produk turunannya sepanjang Januari hingga September 2018 mencapai 22,95 juta ton alias turun 1% dari rentang yang sama tahun lalu," papar dia.

Mukti menilai, pasar minyak sawit global memang sedang lesu karena Argentina selaku salah satu negara penghasil minyak nabati berbasis kedelai terbesar di dunia, tengah mengurangi pajak ekspor kedelai guna menarik pembeli.

"Pada saat bersamaan, produksi minyak sawit terutama dari Indonesia dan Malaysia sedang meningkat. Kondisi tersebut memperburuk situasi, sehingga stok minyak nabati menumpuk di dalam negeri," ujar Mukti.

Berdasarkan data GAPKI, India masih menjadi importir terbesar CPO asal Indonesia pada September 2018, dengan volume pembelian sejumlah 77.440 ton. Meskipun demikian, pengapalan minyak sawit ke India turun 5% dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

"Baru-baru ini Pemerintah India melansir kebijakan biofuel dengan target pencampuran bensin 20% untuk etanol dan 5% pencampuran solar untuk biodiesel pada 2030. Kebijakan ini ternyata membuka peluang pasar lebih besar bagi ekspor CPO Indonesia,” tutur Mukti. (NEDELYA RAMADHANI/m)

Berita Terbaru