Harga CPO Malaysia Kian Terpuruk, Kebijakan RI Ikut Beri Tekanan

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 07 Desember 2018 - 10:20 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka di bursa Malaysia jatuh lebih dari 1 persen medio pekan ini. Pemicunya selain karena meningkatnya stok, juga perubahan kebijakan di Indonesia.

Hal itu diungkapkan oleh pelaku pasar di bursa berjangka Jakarta, Jumat (7/12/2018), terkait dengan tekanan yang dialami harga CPO beberapa hari terakhir ini.

Indonesia telah menerbitkan regulasi baru yang melonggarkan pungutan ekspor terhadap CPO dan produk turunannya menyusul lesunya harga di pasar global. 

Pemerintah Indonesia tidak memungut pajak ekspor dari para eksportir ketika harga di bawah $570 per ton. Tapi akan ada pungutan antara $10-$25 per ton saat harga di kisaran $570-$619 per ton. Kemudian pungutan naik menjadi $20-$50 saat harga berada di angka $619 per ton.

Adapun harga minyak sawit berjangka untuk kontrak pengiriman Februari di  Bursa Malaysia Derivatives Exchange jatuh 1,2 persen menjadi RM1.995 ($480,43) per ton, Rabu (5/12/2018), setelah sempat merosot 1,5 persen menjadi RM1.990.

"Minyak sawit dalam tekanan akibat outlook stok pada akhir November dan adanya perubahan pungutan ekspor di Indonesia," kata pelaku pasar tersebut.

Menurut dia, kebijakan itu akan membuat harga komoditas asal Indonesia lebih kompetitif, tapi itu akan mengurangi permintaan dari Malaysia. 

Reuters mencatat stok minyak sawit Malaysia pada akhir November diprediksi menyentuh level 3 juta ton, yang merupakan level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, yang dipicu oleh penurunan ekspor di tengah turunnya produksi.

Produksi diestimasi merosot 2,1 persen menjadi 1,91 juta ton, sedangkan ekspor diprediksi jatuh 10,6 persen menjadi 1,41 juta ton. (NEDELYA RAMADHANI/m)
 

Berita Terbaru