Petani Kecil Sulit Terapkan Praktik Berkelanjutan Sawit

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 07 Desember 2018 - 10:00 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Praktik pengelolaan industri kelapa sawit berkelanjutan menjadi keharusan bagi siapapun yang terlibat di industri ini demi menjamin produk yang dihasilkan dapat diterima masyarakat global.

Tapi tak semua pelaku industri sawit yang dapat menerapkan praktik berkelanjutan, terutama untuk petani sawit skala kecil, seperti yang terjadi di Kabupaten Aceh Barat dan sejumlah daerah lain. Mereka dinilai tidak mampu menerapkan praktik Indonesia Sustainable Palm Oil System (ISPO) karena memiliki banyak keterbatasan.
    
"Petani hanya memproduksi dan menjualnya kepada kita, pola ISPO diterapkan oleh perusahaan seperti yang kita lakukan. Ini sebagai komitmen menjaga lingkungan," kata Administratur PT Karya Tanah Subur (KTS), Maratuah Nasution, di Meulaboh, Kamis (6/12/2018).
    
ISPO merupakan skim praktik berkelanjutan dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Namun bagi petani, praktik ini tidak mudah karena mayoritas melakukan budidaya tanaman kelapa sawit secara sederhana.
    
Kemudian pihak perusahaan besar, kata Nasution, yang menentukan hasil produksi Tandan Buah Segar (TBS) petani bisa menjadi komoditi yang berkualitas sebagai bahan baku sebelum pengolahan menjadi minyak sawit mentah (CPO).

    
Beberapa contoh kegiatan meningkatkan daya saing minyak sawit Indonesia di pasar dunia, seperti dilakukan pembersihan sebelum proses pengolahan, pemilahan buah muda serta beberapa kiat lain untuk menjaga kualitas minyak sawit.
    
"Termasuk pada perawatan tanaman itu sendiri, ketika area kebun petani seputaran ring perkebunan perusahaan, itu akan dibantu infrastruktur untuk pengaturan air, pupuk dan hal - hal yang berkaitan untuk menjaga buah sawit tetap berkualitas," sebutnya.
    
Perusahaan tersebut, juga memiliki petani kelapa sawit binaan program Corporte Social Responsibility (CSR) atau yang lebih akrab di lingkungan Astra Agro Lestari (Tbk) dikenal dengan nama program Income Generating Activity (IGA).
    
Selain membantu dari penyediaan bibit, pupuk hingga infrastruktur, petani binaan program tersebut juga diperhatikan sebagai mitra kerja sehingga berproduksi layaknya perusahaan perkebunan sawit dengan komoditi yang berkualitas.
    
Untuk mengharapkan produktivitas petani sawit tinggi, PT KTS selama ini memfokuskan pengajaran teknis budidaya tanaman.

Berita Terbaru