Austindo Nusantara Siapkan Antisipasi Penolakan CPO di UE 

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 12 Februari 2019 - 13:50 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kebijakan Uni Eropa (UE) yang menerbitkan aturan teknis atau Delegated Act terkait Renewable Energy Directive (RED) II, dinilai bakal berdampak luas pada ekspor minyak kelapa sawit (CPO). 

Kebijakan terbaru Uni Eropa tersebut diyakini akan mendiskriminasi produk CPO dari bahan bakar ramah lingkungan, sehingga dapat menutup peluang ekspor CPO ke kawasan itu.

"Kami tengah mencari jalan alternatif untuk meminimalisir dampak penolakan CPO di Benua Biru tersebut. Pasar ekspor CPO di China dan India menjadi salah satu alternatif," kata Corporate Secretary PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT), Naga Waskita, di Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Naga menyebut kebijakan yang diambil Uni Eropa tersebut membuat pihaknya harus memutar otak untuk mencari negara tujuan ekspor alternatif.

"Tentu tidak hanya kami, semua perusahaan kelapa sawit lain di Indonesia juga terpengaruh. Kami sekarang mencoba menggali lagi pangsa pasar yang belum tergarap di China dan India," papar dia.

Ekspor minyak kelapa sawit Indonesia terbesar pada tahun lalu masih dipegang oleh India dengan total pengiriman sebesar 6,71 juta ton. Lalu untuk China di tahun yang sama telah mengimpor minyak kelapa sawit dari Indonesia sebesar 4,41 juta ton. 

Sedangkan UE berada di antara keduanya dengan total pengiriman sebesar 4,78 ton. (NEDELYA RAMADHANI/m)

Berita Terbaru