Sembilan Jam Jalan Kaki Menuju Jalan Raya dari Desa Batu Tambun

  • Oleh Achmad Syihabuddin
  • 12 Februari 2019 - 15:36 WIB

BORNEONEWS, Lamandau - Desa Batu Tambun, Kecamatan Batangkawa, merupakan salah satu desa terpencil di Kabupaten Lamandau. Rata-rata warga di desa yang merupakan teritorial perbukitan ini bekerja sebagai petani padi ladang kering atau yang sering disebut dengan 'Bahuma'.

Seorang warga yang bercocok tanam adalah Yoseph Yapan. Pria tua berbadan kurus ini sudah tinggal di desa dekat Sungai Lamandau itu sejak ia dilahirkan, tepatnya pada 1949.

Saat ditemui Borneonews.co.id, ia menceritakan masa-masa di mana warga setempat harus berjalan kaki hampir 12 jam menuju jalan trans Kalimantan yang menghubungkan Provinsi Kalimantan Tengah dengan Kalimantan Barat.

"Daerah sini dulunya tidak memiliki jalan sebesar ini. Dulu waktu saya masih kecil, kami harus berjalan kaki menuju jalan kota. Kurang lebih sembilan jam perjalanan. Dan jika musim hujam terkadang mencapai 12 jam," ucap pria yang akrab dipanggil Yoseph ini.

Estimasi waktu yang disebutkan belum termasuk perjalanan menuju Ibukota Lamandau, Nanga Bulik. Semenjak adanya perusahaan sawit di daerah desa tersebut, jalan setapak itu kini bisa dilalui oleh kendaraan bermotor.

Desa itu pun kini tengah dalam pengembangan. Beberapa rumah warga dan kantor aparat desa sudah dibangun menggunakan material beton seperti di beberapa desa yang mudah didatangi.

"Adanya perbaikan jalan yang dilakukan pemerintah setempat bekerjasama dengan pihak perusahaan sawit, yakni PT Sawit Mandiri Lestari (SML) dapat membantu pembangunan dan akses kesini. Sekarang hanya 10 menitan sudah sampai di Jalan Trans Kalimantan," sebut Yoseph.

Pria yang kini sudah berusia 70 itu mengucapkan terimakasih kepada pihak pemerintahan dan perusahaan yang sudah memperhatikan desa tempat dirinya dilahirkan. 

Bukan hanya memproduksi beras putih, Yoseph yang memiliki lima orang anak ini juga menanam padi hitam. Sebelumnya, hasil bahuma hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan di desa setempat. Dengan ada nya akses jalan itu, beberapa warga dari luar desa tersebut datang membeli padi. 

Dalam satu kali panen, Yoseph mendapatkan 1-2 ton beras. Beras putih dijual seharga Rp9 ribu per kilogram, sedangkan beras hitam dijual Rp30 ribu per kilogram.

Berita Terbaru