Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Kab. Semarang Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

BPDPKS Siap Danai Promosi Sawit Berkelanjutan di India

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 27 Maret 2019 - 11:56 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) berkomitmen untuk siap membantu pendanaan promosi sawit berkelanjutan Indonesia di India.    

"Promosi sawit berkelanjutan Indonesia di India memang merupakan kesepakatan DMSI (Dewan Minyak Sawit Indonesia), The Solvent Extractors Association of India (SEA), dan Solidaridad menindaklanjuti penurunan ekspor sawit," ujar Ketua Umum DMSI, Derom Bangun, usai pertemuan kelompok kerja bersama Indonesia-India di Medan, Sumatera Utara, Selasa (26/3/2019).    

Pertemuan itu dimulai sejak awal pekan ini dan berlangsung hingga Rabu (27/3/2019) untuk menindaklanjuti pertemuan sebelumnya di Jakarta, 19 Desember 2018. DMSI, SEA dan Solidaridad telah menandatangani Nota Kesepahaman pada 16 Juli 2018 yang bertujuan untuk mempererat kerja sama.    

Kerja sama antara beberapa lembaga terkait itu untuk mempromosikan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) di India dan India Palm Oil Sustainability (IPOS) di Indonesia.    

Derom menyebutkan, biaya promosi sawit berkelanjutan di India memang cukup besar sehingga perlu dukungan banyak pihak seperti BPDPKS. Tetapi meski mahal harus dilakukan, mengingat India sebagai negara pengimpor terbesar Indonesia.    

Direktur Penyaluran Dana BPDPKS, Edi Wibowo, menegaskan pihaknya memang siap mengucurkan dana untuk promosi sawit berkelanjutan di India seperti disepakati dalam Indonesia - India Palm Oil Joint Working Group Meeting "Talking ISPO and IPOS Forward'. Namun demikian, besarannya belum ditetapkan.    

"BPDPKS memang sejak awal sudah menetapkan dua persen dari dana BPDPKS untuk keperluan promosi dan advokasi," katanya.    

President The Solvent Extractors Association of India (SEA) Atul Chaturvedl menyebutkan pihaknya memang prihatin dengan tren menurunnya permintaan minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya.    

"Data menunjukkan permintaan sawit menurun dan sebaliknya permintaan minyak nabati lainnya naik, sehingga memang harus mendapat perhatian serius Indonesia dan Malaysia juga sebagai produsen CPO utama," katanya.    

Sementara itu, Asisten Deputi Perkebunan dan Hortikultura Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Wilistra Danny, menyatakan pemerintah mendukung pertemuan DMSI dan SEA dan menyepakati beberapa langkah untuk masa depan sawit Indonesia.    

Berita Terbaru