RI-Malaysia Bersatu Lawan Diskriminasi Terhadap Sawit

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 08 April 2019 - 09:00 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Indonesia dan Malaysia berdiri bersama-sama untuk menghadapi kebijakan diskriminatif Uni Eropa yang dikemas dalam 2018/2001 of the European Union Renewable Energy Directive II.

Dalam pernyataan terbarunya akhir pekan lalu, Kementerian Industri Utama Malaysia mengatakan delegasi dari Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) saat ini berada di Brussels, Belgia, untuk mengajukan protes dan keberatan Indonesia dan Malaysia kepada anggota Parlemen Eropa.

Delegasi Malaysia dipimpin Sekretaris Jenderal Kementerian Industri Utama Datuk Dr. Tan Yew Chong, dan didampingi para pejabat dari Malaysian Palm Oil Council, Malaysian Palm Oil Board dan Malaysian Palm Oil Certification Council.

Sedangkan delegasi Indonesia dipimpin Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Mushdalifah Machmud.

Adapun CPOPC telah menuding regulasi yang disusun Uni Eropa itu melenceng dari sisi sains, karena mendiskriminasi biofuel dan bioliquid yang dihasilkan dari minyak sawit dibandingkan minyak nabati dari tumbuhan lain, seperti kedelai, rapeseed dan bunga matahari.

Yang lebih parah, UE bahkan telah mengabaikan skema sertifikasi yang didukung masing-masing pemerintahan, seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO).

Jika kebijakan diskriminatif tersebut disahkan oleh Parlemen Eropa, itu akan mengganggu sosial ekonomi jutaan petani sawit di Asia dan mengabaikan amanah PBB untuk mengentaskan kemiskinan.

Malaysia dan Indonesia telah memperingatkan UE bahwa kedua penghasil minyak sawit terbesar dunia ini siap melakukan tindakan balasan jika diperlukan. (NEDELYA RAMADHANI/m) 

Berita Terbaru