Pakar: Jangan Ada Perang Dagang Terkait Larangan Sawit di UE

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 18 April 2019 - 11:45 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sejumlah pakar di industri kelapa sawit menyarankan agar produsen minyak sawit dunia menghindari perang dagang terkait kampanye hitam yang dilancarkan Uni Eropa.

Langkah terbaik yang harus dilakukan terutama oleh dua produsen minyak sawit terbesar dunia, yakni Indonesia dan Malaysia, adalah melakukan rebranding produk minyak sawit, meningkatkan hasil panen dan memperpanjang usia hidup tanaman sawit.  

Denis Murphy, ketua komisi penasihat biologi di Malaysian Oil Palm Board, mengatakan medio pekan ini bahwa hasil panen sawit saat ini stagnan selama hampir 20 tahun, sehingga perlu cara baru untuk meningkatkannya.

“Kita tidak harus mengubah lebih banyak lahan untuk replanting. Sumberdaya yang ada harus dioptimalkan sehingga dapat mendongkrak produktivitas sawit,” ucapnya, seperti dilansir Bernama. 

Ia juga menyarankan Malaysia untuk tidak melakukan tindakan balasan atas rencana Uni Eropa menghapus minyak sawit untuk membuat biodiesel.

Lebih baik, kata Murphy, dicari cara-cara untuk memperpanjang usia hidup tanaman sawit, sehingga tidak harus ditebang setiap 25 tahun untuk digantikan tanaman baru. Langkah ini juga dapat meredam tudingan tanaman sawit sebagai pemicu deforestasi.

Cara lainnya adalah dengan me-rebranding sawit, seperti yang dilakukan Kolombia terhadap komoditas kopi mereka. (NEDELYA RAMADHANI/m)

Berita Terbaru