Kalau Harga Biofuel dan CPO Naik Tinggi, Malaysia Lakukan Ini 

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 27 April 2019 - 08:35 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Diakui bahwa dalam penerapan program biodiesel, Indonesia jauh lebih maju dari Malaysia. Bahkan sekarang Indonesia sudah menyiapkan program biodiesel B100. 

Meningkatnya produksi dan menurunnya ekspor belakangan ini telah memicu penumpukan stok. Bagi Indonesia, program biodiesel dengan campuran minyak sawit lebih tinggi memiliki keuntungan karena dapat menyerap stok CPO lebih banyak. 

Sementara bagi Malaysia, pergerakan harga biodiesel dan minyak sawit yang signifikan akan menjadi masalah tersendiri. Untuk itu, negeri jiran itu siap bertindak jika biodiesel dan CPO naik tinggi di masa mendatang. 

Menurut Menteri Industri Utama Malaysia Teresa Kok, langkah yang akan dilakukan pihaknya jika harga biodiesel dan CPO meningkat tajam adalah mengurangi campuran biofuel, seperti yang dilakukan Indonesia. 

“Masalah yang kami hadapi saat ini adalah kami tidak menerapkan program biofuel secara serius, tak seperti Indonesia," ujarnya. 

“Di masa lalu, kami menerapkan B10, dan sekarang B5 untuk sektor industri," imbuh Kok. 

Jika harga biofuel terus naik, Kok menyatakan akan selalu mengurangi campurannya dengan minyak sawit. Hal ini untuk memitigasi perubahan harga. 

“Tapi saat ini, selisih harga antara biofuel dan diesel sebesar 0,41 sen per liter, tak sampai satu sen,” ucapnya dalam seminar tentang implementasi biodiesel di sektor industri, akhir pekan ini. 

Harga, katanya, seharusnya tidak menjadi perhatian utama yang menghambat pemain di sektor industri mengadopsi biodiesel dengan persentase pencampuran yang lebih tinggi. (NEDELYA RAMADHANI/m)

Berita Terbaru