Malaysia Belum Menyerah Promosikan Minyak Sawit di UE

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 27 Mei 2019 - 14:30 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dengan bakal diterapkannya pembatasan penggunaan minyak sawit untuk pembuatan biofuel di Uni Eropa (UE), masih terbuka peluang bagi negara produsen sawit untuk bernegosiasi agar produk minyak nabati ini tetap menjadi bahan baku untuk biodiesel. 

Langkah itulah yang akan terus diupayakan Indonesia dan Malaysia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia untuk meyakinkan masyarakat Uni Eropa bahwa minyak sawit sudah melalui proses pengolahan berkelanjutan. 

Dalam hal ini, Malaysia melalui Kementerian Industri Utama akan menggelar pertemuan dengan para anggota Parlemen Eropa dan Dewan Eropa pada Oktober mendatang. 

Menurut Menteri Utama Malaysia Teresa Kok, seperti dilansir The Edge Market, dalam pertemuan itu juga dimaksudkan untuk mempromosikan minyak sawit sebagai andalan ekspor. 

“Kami harus menunggu hasil pemilihan dan saya akan berkunjung ke Eropa pada Oktober untuk bertemu para anggota Parlemen Eropa dan Ketua Komisi Eropa yang baru," ucapnya. 

Kok menjelaskan bahwa pihaknya perlu bekerjasama dengan anggota Parlemen Eropa yang baru. 

“Kami harus memahami regulasi baru terkait sawit akan dikaji pada 2021, dan kami harus kerja keras selama dua tahun ke depan," ungkap Kok. 

Untuk saat ini, keputusan UE belum menimbulkan dampak signifikan terhadap perekonomian Malaysia. 

“Ini proses yang terus dilakukan sampai kebijakan itu dikaji ulang pada 2021. Untuk itu, kami harus bekerja keras demi industri minyak sawit kami, sehingga UE bisa mengkaji lagi seperti yang telah disepakati sebelumnya," kata Kok. (NEDELYA RAMADHANI/m) 
 

Berita Terbaru