Jaksa Sebut Bendahara Umum Daerah Katingan Diperalat Akhmad Yantenglie

  • Oleh Agus Priyono
  • 05 Juli 2019 - 00:36 WIB

BORNEONEWS, Palangka Raya –Bendahara Umum Daerah (BUD) yang terlibat dalam kasus tidak pidana korupsi uang kas daerah Kabupaten Katingan senilai Rp 100 miliar, hanya diperalat dan digunakan sebagai pengalihan oleh mantan Bupati Katingan Akhmad Yantenglie.

Kasi Pidsus Kejari Katingan yang menjadi jaksa penuntut umum dalam kasus ini, Tomy Aprianto, mengatakan bahwa indikasi BUD yakni Sura Paranginangin dan juga kuasa BUD, Tekli, diperalat dan diguakan sebagai pengalihan, terungkap berdasarkan fakta persidangan.

Fakta yang terungkap dalam persidangan bahwa terjadi perbubahan MoU yang sebelumnya deposito menjadi giro. Yang mana sebenarnya ada dua MoU yakni MoU deposito dan MoU giro. Dua MoU itu dibuat oleh terdakwa Yantenglie untuk mengelabui BUD demi meloloskan niatnya menempatkan uang kas daerah Kabupaten Katingan di BTN Pondok Pinang, Jakarta.

“Jadi Tekli dan Sura itu terindikasi sebagai pengalihan saja. Kalau dilihat dari faktanya itu mereka diperalat. Itu juga dibuktikan Tekli mengetahui kalau rekening itu giro setelah uang kas daerah yang ditempatkan di bank itu hilang,” ujar Tomy, Kamis, 4 Juli 2019.

Ia melanjutkan, sejak awal memang sudah ada niat dari Yantenglie untuk bermain dengan uang kas daerah Kabupaten Katingan senilai Rp 100 miliar tersebut. Ini dibuktikan dengan perencanaan penempatan uang, kemudian proses pembukaan rekening yang dilakukan di lobi hotel, yang tentunya tidak sesuai dengan kewajaran.

“Dari awal itu sudah menunjukan ketidakwajaran. Mulai dari perencanaan oleh Yantenglie, yang selanjutnya diteruskan kebagian teknis. Kemudian membuka rekening di lobi hotel. Biasanya dalam pembukaan rekening itu kan harus ada sikap kehati-hatian, baik dari bupati atau pihak bank. Jadi di sini ada semacam niat untuk bermain dengan uang itu,” pungkasnya. (AGUS/B-3)

Berita Terbaru