Kerukan Hantipan di Katingan Makin Dangkal

  • Oleh Abdul Gofur
  • 01 Agustus 2019 - 07:58 WIB

BORNEONEWS, Kasongan - Kerukan Hantipan di wilayah Kecamatan Mendawai dan Katingan Kuala Kabupaten Katingan saat ini terus mendangkal.

Bahkan kelotok penumpang maupun barang yang biasa disebut longboat, saat ini tidak bisa langsung menuju Pegatan dari Sampit Kabupaten Kotim.

Pasalnya, untuk melanjutkan perjalanan, penumpang harus menggunakan jasa kelotok yang lebih kecil atau CES menuju kampung halamannya.

Sejauh ini Kerukan Hantipan yang tembus ke wilayah Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, itu menjadi andalan warga di dua wilayah kecamatan, yakni Katingan Kuala dan Mendawai.

Namun seiring musim kemarau lambat laun Kerukan Hantipan menyurut dan saat ini sebagian tidak bisa dilewati langsung oleh longboat itu.

Kondisi ini memaksa warga dua kecamatan di bagian hilir Kabupaten Katingan tersebut harus merogoh kocek dalam-dalam.

Biasanya untuk sekali jalan ke Sampit dari Pegatan menggunakan longboat, satu penumpang ditarik ongkos Rp100 ribu.

Akan tetapi sejak kerukan surut biayanya membengkak hingga mencapai Rp180 ribu sekali jalan.

"Kalau dari Mendawai ke Kerukan Hantipan naik CES sampai kondisi air aman untuk longboat itu biayanya Rp80 ribu sekali jalan. Kemudian dari Hantipan ke Sampit Rp100 ribu sekali jalan, tapi kalau dari Pegatan biayanya bisa lebih besar," tutur Dani warga Desa Mendawai Kecamatan Mendawai, Rabu, 31 Juli 2019.

Camat Mendawai, Suyoto mengakui jika kondisi Kerukan Hantipan yang dangkal menyebabkan biaya perjalanan ke Sampit ataupun ke Kasongan saat ini tinggi.

Pasalnya kelotok angkut di Kerukan Hantipan harus sistim imbal. Warganya, kata Suyoto sejauh ini jika hendak ke Kasongan kerap melalui Kerukan Hantipan kemudian ke Sampit baru ke Kasongan. Sebab belum ada trayek kelotok penumpang dari Mendawai ke Kasongan melewati Sungai Katingan.

Selain itu juga tidak jarang warganya melewati Laut Jawa untuk ke Sampit.(ABDUL GOFUR/B-5)

Berita Terbaru