Isu Sawit tak Ganggu Relasi ASEAN - UE

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 10 Agustus 2019 - 07:40 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Berbagai permasalahan soal minyak sawit yang dialami Indonesia dan Malaysia untuk memasuki pasar Uni Eropa (UE) dinilai tidak akan mempengaruhi hubungan dan upaya peningkatan kerja sama antara UE dan ASEAN. 

"Masalah minyak kelapa sawit adalah elemen khusus dari hubungan antara Uni Eropa dan dua negara ASEAN tertentu (Indonesia, Malaysia). Jadi saya pikir, baik ASEAN maupun Uni Eropa, sepakat bahwa masalah itu tidak masuk sebagai topik diskusi tentang hubungan Uni Eropa-ASEAN. Itu pada dasarnya adalah posisi Uni Eropa yang menurut saya disetujui oleh negara-negara ASEAN," ujar Kuasa Usaha Ad Interim Misi Uni Eropa untuk ASEAN, Lucas Cibor, di Jakarta, di sela acara Peluncuran Buku Biru ASEAN-Uni Eropa 2019, baru-baru ini. 

Terkait penyelesaian masalah sulitnya produk minyak sawit Indonesia dan Malaysia masuk ke pasar UE, Lucas mengatakan bahwa UE akan terus berupaya bersama Indonesia dan Malaysia untuk mendiskusikan dan merundingkan persoalan sawit hingga menemukan solusi terbaik bagi semua pihak.

"Posisi Uni Eropa tentang minyak kelapa sawit adalah bahwa ini pada dasarnya tentang memastikan keberlanjutan bahan bakar nabati. Kami hingga saat ini sebenarnya tidak memberlakukan larangan masuk pada minyak sawit atau bahan bakar nabati lainnya," ucap Lucas.

Dia menjelaskan UE sedang mencari cara untuk merasionalisasi penerapan kebijakan terhadap minyak sawit yang dianggap sebagai bahan bakar nabati yang produksinya belum menunjang keberlanjutan.

"Kebijakan yang telah kami tawarkan sejauh ini pada intinya mensubsidi beberapa jenis bahan bakar nabati dan produksi bahan bakar nabati tertentu sebagai alternatif dari bahan bakar yang tidak berkelanjutan," katanya.

Soal kemungkinan isu sawit dapat berdampak pada hubungan ASEAN-Uni Eropa, Lucas berpendapat hal itu bisa saja terjadi bila Indonesia dan Malaysia membawa masalah bilateralnya dengan Uni Eropa ke ranah regional, yakni dalam hubungan antara ASEAN-Uni Eropa. Namun, dia menyayangkan bila hal itu benar-benar terjadi.

"Masalah sawit itu mungkin memang berdampak pada hubungan, negara mana pun dapat memilih untuk mengambil masalah bilateral dengan Uni Eropa dan memperluasnya ke dimensi regional," ujarnya.

"Tetapi kami percaya bahwa sikap seperti itu tidak membantu, dan kami pikir penting untuk memisahkan masalah bilateral antara negara-negara ASEAN tertentu dengan hubungan regional antara Uni Eropa dan ASEAN yang menurut kami memiliki banyak potensi untuk maju lebih jauh," imbuhnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)
 

Berita Terbaru