Mandatori Biodiesel RI Kian Tinggalkan Malaysia di 2020

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 13 Agustus 2019 - 16:00 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Program mandatori biodiesel di Indonesia menjadi salah satu program yang mampu meningkatkan permintaan dan mengikis tumpukan stok di pasar.

Program ini juga diyakini dapat menjaga stabilitas harga minyak sawit mentah (CPO) dari sentimen global.

Untuk itulah mengapa Presiden Joko Widodo berharap penggunaan Biodiesel B20 pada Januari 2020 dapat berpindah ke B30. Artinya, ada peningkatan persentase campuran minyak sawit dari 20 persen menjadi 30 persen.

Jika program ini dilakukan secara optimal dan konsisten, target Biodiesel B100 akan lebih cepat tercapai. 

"Dan selanjutnya nanti di akhir 2020 sudah meloncat lagi ke B50," kata Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas di Jakarta, awal pekan ini.

Dalam rapat tersebut, Kepala Negara juga menjelaskan implementasi penggunaan B20 dapat menghemat anggaran negara mengimpor BBM hingga 5,5 miliar dolar AS per tahun.

Tak hanya itu, penggunaan biodiesel B20 juga dapat meningkatkan permintaan komoditas CPO dalam negeri.

Sementara itu, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat penyerapan biodiesel dalam negeri sepanjang Januari-Juni 2019 mencapai 3,29 juta ton seiring mandatori Biodiesel 20 persen (B20).

Jumlah tersebut naik 144 persen dari periode sama 2018 yang hanya mampu menyerap sebesar 1,35 juta ton. (NEDELYA RAMADHANI/m)

Berita Terbaru