Santri di Sampit Dilatih Mengelola Gambut Tanpa Membakar

  • Oleh Muhammad Hamim
  • 13 Agustus 2019 - 17:36 WIB

BORNEONEWS, Sampit - Ratusan santri Pondok Pesantren Darul Amin Sampit mendapatkan pelatihan tentang cara mengelola gambut secara benar tanpa membakar. Pelatihan dilaksanakan Badan Restorasi Gambut, Selasa, 13 Agustus 2019. 

"Sosialisasi ini kami lakukan untuk memberikan pengetahuan cara tepat mengelola lahan gambut dengan cara tidak membakar," ujar Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut, Myrna A Safitri. 

Hal tersebut dilakukan, dengan harapan agar para santri bisa mengetahui sejak dini pengelolaan lahan gambut yang benar. Sehingga saat dewasa nantinya, bisa menekan terjadinya aksi pembakaran lahan.

Dia juga menjelaskan, dampak kebakaran lahan gambut sangatlah besar. Apalagi tanah gambut mempunyai kemampuan mengikat beberapa gas berbahaya, seperti karbon dan juga sianida. Saat terbakar, gas tersebut ikut keluar hingga terhirup manusia. 

"Sementara ini dampak dari menghirup asap kebakaran lahan flu dan batuk. Namun dikhawatirkan dampak lebih parah terjadi pada 10 hingga 20 tahun nantinya," kata Myrna. 

Pihaknya pun terus berupaya untuk mengajak masyarakat agar tidak membakar lahan dan juga mengantisipasi kebakaran lahan. Sehingga kabut asap tidak timbul, dan kesehatan masyarakat lebih terjaga.

Sedangkan, Pengurus Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama Pusat, Asep Irfan mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk membantu pelestarian lingkungan, termasuk dalam hal menjaga dan mengelola gambut secara benar sehingga terhindar dari kerusakan. Karena perbuatan kerusakan merupakan hal yang dilarang agama Islam.

"Membakar lahan gambut, sama saja berarti kita tidak bersyukur dengan ciptaan Allah SWT. Bahkan Allah SWT melarang manusia untuk berbuat kerusakan di muka bumi ini," terang Irfan. (MUHAMMAD HAMIM/B-11)

Berita Terbaru