Hadapi Gejolak Harga CPO, Eagle High Plantations Fokus Efisiensi

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 14 Agustus 2019 - 11:10 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Emiten perkebunan kelapa sawit, PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) fokus melakukan efisiensi di tengah gejolak harga minyak sawit mentah (CPO) dalam dua tahun terakhir.

Sektor sawit juga terdampak sentimen perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China serta kampanye negatif sawit dari Uni Eropa.

Perseroan hanya akan fokus mengelola lahan sawit seluas 140.000 hektare secara efektif dan efisien yang tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Papua. Sebab dengan kebijakan pemerintah yang baru, pemerintah memberlakukan moratorium untuk izin pembukaan lahan sawit baru. 

Untuk  bisa bertahan, perseroan akan memaksimalkan dari hasil produksi yang ada dan menjual semua hasil produksi sawit.

Pada semester II tahun ini, produksi kelapa sawit perseroan akan meningkat menjadi rata-rata sekitar 200.000 ton dari rerata produksi hingga Mei 2019 sebesar 113.000 ton.

Permintaan sawit meski ada tekanan dari Uni Eropa, pasar di Asia seperti China dan India akan tetap tumbuh. Hal ini juga ditambah dengan rencana pemerintah mengimpelentasikan kebijakan pencampuran biodisel 20% (B20) menjadi 30% (B30) untuk setiap liter solar.

Hingga triwulan pertama, BWPT memproduksi tandan buah segar (TBS) 359.966 ton, CPO 74.718 ton dan Kernel sebanyak 11.431 ton. Capaian produksi ini masing-masing meningkat 40%, 33%, dan 25% dari periode yang sama di tahun sebelumnya.

Dilihat dari sisi kinerja 3 bulan pertama tahun ini, pendapatan BWPT hanya naik tipis, 1% sebesar Rp637,99 miliar dari sebelumnya Rp629,69 miliar. Perseroan masih mencatatkan rugi Rp254,99 miliar pada triwulan I-2019, dari periode sebelumnya Rp69,83 miliar.

Sedangkan analis PT Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama, mengatakan saham BWPT berpotensi tumbuh karena lahan perkebunan sudah memasuki usia matang. 

"Produksi sawit yang bisa dihasilkan pohon-pohon berusia dewasa berpeluang meningkatkan produksi dan penjualan. Kita berharap demand CPO global meningkat secara perlahan," katanya dalam risetnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)

Berita Terbaru