Hanya 15 PSK di Barito Utara Ikut Program Pemulangan dari Pemerintah

  • Oleh Ramadani
  • 21 Agustus 2019 - 11:12 WIB

BORNEONEWS, Muara Teweh – Pemerintah Kabupaten Barito Utara tahun ini telah memprogramkan akan melaksanakan penutupan lokalisasi di KM 3,5 Jalan Muara Teweh - Puruk Cahu atau yang kerap disebut Merong.

Program penutupan prostitusi di lokalisai yang juga akrab disebut lembah durian ini merupakan amanah dari Kementerian Sosial yakni tahun 2019 Indonesia bebas prostitusi anak jalanan atau bebas pasung.

Disampaikan Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Barito Utara, Eveready Noor, Rabu 21 Agustus 2019 di Muara Teweh bahwa dari data pihaknya sebanyak 120 orang PSK yang ada di komplek lokalisasi ini, hanya sebagian kecil PSK yang mau ikut dalam program pemulangan dari pemerintah ini, sedang sebagian besar memilih pulang sendiri dengan berbagai alasan.

"Dari data 120 orang PSK yang terdata, hanya ada sekitar 15 orang yang mau dipulangkan ke kampung halamannya," katanya.

"Sementara yang lainnya tidak mau dipulangkan oleh pemerintah, padahal untuk biaya transfortasi ditanggung pemerintah, serta PSK juga akan mendapatkan bantuan uang dari Kementerian Sosial sebesar Rp 5,5 juta per orang,” bebernya.

Meski demikian pihaknya tidak dapat memaksa jika para PSK ini ingin pulang sendiri ke kampung halamannya, yang terpenting setelah penutupan tidak ada lagi praktek prostitusi di tempat tersebut.

Diketahui, rencana penutupan prostitusi di lokalisasi tersebut tampaknya mundur dari rencana sebelumnya pada Juni 2019 menjadi ke Oktober 2019.

Di sampaikan, tahapan telah dilakukan baik berupa kegiatan sosialisasi hingga pendataan dan rencananya akan dilaksanakan rapat mengenai penutupan prostitusi di lokalisasi tersebut.

“Saat ini masih ada beberapa kegiatan penting yang dilaksanakan Pemkab Barito Utara. Kemungkinan untuk waktu penutupan akan dilaksanakan pada Oktober,” katanya. (RAMADHANI/B-6)

Berita Terbaru