CPO Potensi Tertekan Profit Taking

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 22 Agustus 2019 - 12:45 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Menguatnya nilai tukar ringgit Malaysia medio pekan ini sepertinya akan kembali direspons negatif oleh pelaku di pasar komoditas, khususnya minyak sawit mentah (CPO). 

Pada perdagangan Rabu (21/8/2019), harga minyak sawit mentah (CPO) kontrak pengiriman November di Bursa Malaysia Derivatives Exchange (BMDEX) melemah 0,37% ke level RM2.169 per ton. Padahal pada sesi perdagangan sehari sebelumnya harga CPO ditutup naik 0,97%.

Menurut pelaku pasar di Jakarta, Kamis (22/8/2019), penguatan harga CPO sebelumnya yang ditopang oleh sentimen kenaikan ekspor minyak sawit dari Malaysia, kemungkinan hari ini akan berbalik arah.

"Ada kemungkinan sejumlah investor akan merealisasikan keuntungan mereka dengan melepas kepemilikan pada saat harga CPO mulai mengalami tekanan lagi," katanya. 

Sebelumnya, surveyor kargo Intertek Testing Services (ITS) mengatakan volume ekspor minyak sawit Malaysia sepanjang periode 1-20 Agustus 2019 naik 8,7% dibanding periode yang sama bulan sebelumnya. 

Sedangkan AmSpec Agri Malaysia menyebutkan ekspor minyak sawit meningkat hingga 13% pada periode yang sama.

Adapun nilai tukar ringgit terhadap dolar AS kemarin menguat 0,24%. Hal ini membuat harga CPO menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, yang membuat harga kembali ke area negatif. (NEDELYA RAMADHANI/m)
 

Berita Terbaru