Terancam Punah, Kayu Meranti Kalimantan Harus Dilindungi

  • Oleh Danang Ristiantoro
  • 11 September 2019 - 19:06 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Terancam punah keberadaan kayu Meranti di Kalimantan menjadi pohon yang fokus untuk dilindungi dan menjadi bahasan saat diskusi para delegasi pemerhati lingkungan di dunia dalam acara workshop On Conservati Conservation Of Diperocarpaceae In Borneo – Part Of The “Securing The Future Of Treatened Tree Gianst In Borneo”.

President Orangutan Foundation (OFI) Prof Dr Birute Mary Galdikas, sebagai penyelenggara workshop atau Lokakarya tentang Konservasi Dipterocar- paceae di Kalimantan menjelaskan, kegiatan tersebut bagian dari mengamankan masa depan pohon besar yang terancam punah di Kalimantan, termasuk Meranti.

"Ada sekitar 400 ribu pohon besar di Kalimantan dan dari sekian banyak pohon, pohon Meranti telah menjadi sorotan dalam diskusi," ujarnya, Rabu 11 September 2019.

Acara Workshop berlangsung di Kantor Herbarium milik OFI Jalan Bhayangkara – Laman Tuha Pangkalan Bun, Senin, September 2019 sampai Kamis, 12 September 2019 ini diikuti sejumlah delegasi pemerhati lingkungan hidup dunia, yakni dari Canada, Malaysia, Brunai dan Universitas Bogor dan Pontianak.

Dia menyebutkan kayu Meranti terdapat 130 jenis menjadikannya salah satu jenis kayu khas daerah tropis yang cukup terkenal. Kayu ini juga termasuk salah satu jenis kayu komersial yang banyak peminatnya.

“Di Indonesia sendiri, Meranti berasal dari beberapa daerah ada di hutan Kalimantan, Sumatera, Maluku, Sulawesi dan kalimantan merupakan daerah penghasil kayu Meranti yang paling bagus, di TNTP ada beberapa pohon kayu Meranti yang besar dan tinggi dan harus di jaga," ungkap Birute.

Dijelaskannya lagi, dalam diskusi (workshop) ini, selain fokus terhadap pohon Meranti juga terhadap mohon lainnya termasuk tanaman-tanaman obat-obatan, serta satwa dan fauna.

Lokakarya (workshop) tentang Konservasi Dipterocarpaceae di Kalimantan, diselenggarakan OFI kerjasama dengan National Geographic dan SEBG ( Asia Botanic Garden Network ) serta BGCI ( Botanic Gardens Conservation International).

“Tujuan workshop antara lain, mendiskusikan sampai sejauh mana keberadaan hutan di Kaliamantan dan bagaimana solusinya untuk melindungi hutan Kalimantan yang saat ini kondisinya terancam oleh berbagai faktor," tandasnya. (DANANG/B-6)

Berita Terbaru