Kabut Asap akibat Karhutla yang Menyelimuti Kasongan Tambah Pekat

  • Oleh Abdul Gofur
  • 12 September 2019 - 22:06 WIB

BORNEONEWS, Kasongan - Kabut asap akibat karhutla yang menyelimuti Kota Kasongan, Kabupaten Katingan, sepanjang Kamis, 12 September 2019, bertambah pekat bila dibanding dengan hari sebelumnya.

Kabut asap pekat bahkan mampu menyebabkan mata perih. Selain itu, menyebabkan bau menyengat hingga menimbulkan bersin. Tidak sedikit warga yang mengaku mulai demam akibat kabut asap ini.

"Anak saya sudah beberapa hari ini tidak masuk sekolah karena kena demam akibat kabut asap ini," kata Lukman, warga Kasongan.

Kepala TK Aisiyah Kasongan Musifah menuturkan, kabut asap selama beberapa hari terakhir menyebabkan sejumlah anak didiknya tidak masuk sekolah karena sakit.

"Iya ada beberapa anak didik kami yang tidak masuk sekolah lantaran sakit karena kabut asap. Selain itu, karena jarak menuju ke sekolah dari rumah jauh jadi orang tua mengizin anak mereka tidak masuk karena asap itu," tuturnya.

Sementara itu, titik panas di Kabupaten Katingan sejauh ini cukup banyak. "Kalau dari prakiraan pihak BMKG, di wilayah Kabupaten Katingan sampai saat ini ada sekitar 600 titik panas," sebut Plt Kepala BPBD Kabupaten Katingan Akhmad Rubama.

Namun, titik panas sesuai prakiraan pihak BMKG tidak sepenuhnya akibat kebakaran lahan atau titik api. Pasalnya, setelah dicek di lapangan, ternyata bukan hasil pembakaran lahan atau titik api, melainkan ada pembukaan tutupan lahan gambut yang berair.

"Ada juga yang terpantau melalui satelit itu lokasinya di wilayah Katingan, tapi setelah dicek masuk Gunung Mas."

Meski demikian, Akhmad Rubama tidak menampik bahwa saat ini di wilayah Katingan cukup banyak titik api yang tersebar di sejumlah kecamatan.

"Seperti di wilayah Kecamatan Mendawai, menuju barat daya arah Sampit, tepatnya sekitar Kerukan Hantipan. Saat ini areal di wilayah itu terbakar dan kami minta BPBD Kalteng mengirimkan helikopter untuk melakukan pengeboman air dkarena lokasinya jauh dari permukiman. Selain itu, terbatasnya sumber air di sekitar lokasi," sebut Akhmad Rubama. (ABDUL GOFUR/B-3)

Berita Terbaru