Stunting Bisa Dicegah saat Perempuan Memasuki Usia Remaja

  • Oleh James Donny
  • 03 Oktober 2019 - 09:50 WIB

BORNEONEWS, Pulang Pisau - Permasalahan stunting penting dicegah sejak dini. Bahkan, persoalan ini sudah bisa dicegah saat kaum perempuan memasuki usia remaja. Di usia itu, kekurangan nutrisi bisa menjadi siklus awal terjadinya stunting pada anak.

"Siklus terjadinya stunting itu sudah mulai dari remaja putri, masa kehamilan, bayi yang lahir, balita, SD, SMP, dan remaja," kata Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Pulang Pisau, Ma'ruf Kurkhi, Kamis, 3 Oktober 2019.

Menurutnya masalah gizi seperti gizi buruk dan stunting masih menjadi persoalan besar yang perlu diatasi segera. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

Demikian juga ibu yang masa remajanya kurang nutrisi, juga pada masa kehamilan, dan laktasi sangat berpengaruh pada pertumbuhan tubuh dan otak anak.

Untuk mengetahui apakah bayi mengalami stunting atau tidak yakni dengan mengukur berat badan dan panjangnya. Jika berat badan bayi baru lahir kurang dari 2500 gram dan panjangnya kurang dari 48 sentimeter, itu sudah stunting.

Kendati demikian, masih ada peluang untuk memperbaiki pertumbuhan bayi dengan memerhatikan pemenuhan nutrisi. Sehingga berat badan dan panjang bayi bisa bertambah sehingga ada perbaikan dalam pemenuhan gizinya.

"Namun, 1000 hari pertama kehidupan mulai dari janin hingga bayi sebagai upaya yang ideal untuk pencegahan terjadi stunting. Ibu harus rajin mengunjungi posyandu hingga anaknya balita," terang Ma'ruf.

Dalam upaya pencegahan, dinkes bersama dinas/badan terkait lainnya melakukan konvergensi percepatan penurunan stunting atau KP2S yang di dalamnya terdapat 8 aksi. (JAMES DONNY/B-11)

Berita Terbaru