Pengamat Sebut Harmonisasi Tim Kalteng Putra Mulai Goyah

  • Oleh Danang Ristiantoro
  • 15 Oktober 2019 - 10:46 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pengamat sepakbola, Yusro Arodi menilai harmonisasi di dalam tubuh Kalteng Putra mulai goyah. Hal tersebut terlihat dengan beredarnya berita pemain Kalteng Putra yang mogok berlatih.

Dia menilai, keharmonisan skuad Kalteng Putra sudah mulai berkecamuk. Belum selesai soal kegusaran hasil negatif di beberapa pertandingan yang menyebabkan tim harus terpuruk di zona degradasi.

"Tentunya ketidakhadiran pemain berlatih menimbulkan tanda tanya besar bagi suporter. Ada apa pemain tidak berlatih saat suporter berharap kemenangan di setiap pertandingan agar bisa keluar dari zona degradasi. Manajemen harus ada solusi jangan sampai ini dibiarkan berlarut-larut," tegas Yusro, Selasa, 15 Oktober 2019.

Dia mengatakan, ada suatu perbedaan mengelola liga 1 dengan liga 2. Di liga 2 pemain masih bisa dijanjikan, berbeda dengan liga 1, semuanya harus profesional. Jika ada keganjilan dalam perencanaan, pasti akan berdampak pada prestasi.

Apalagi, dia melihat banyak klub besar di Indonesia yang dari sisi manajemennya kurang kondusif, pasti akan terseok-seok dalam urutan klasemen.

"Tim promosi yang saat ini masih konsisten ialah PSS Sleman, saya melihat hal ini terlihat manajemen PSS lebih berpengalaman," ujarnya.

Yusro Arodi menambagkan, Kalteng Putra kini berada di urutan klasemen ke - 17, dengan 20 poin ini sangat rawan dan kandas di degradasi. Dalam lima laga terakhir, mereka bahkan makin tidak meyakinkan untuk bertahan, tiga hasil imbang dan dua menelan kekalahan,

"Kita tahu, Kalteng Putra di awal musim permainan sangat menjanjikan tapi begitu waktu terus bergulir dan kompetisi semakin ketat, justru banyak pemain berkelas hengkang. Ditambah lagi pemain enggan berlatih, hal ini menjadi tanda tanya besar," kata dia.

Menururtnya, peluang keluar dari zona degradasi masih ada dengan menyisakan kurang lebih 13 pertandingan yang akan dihadapi. Peran manajemen sangatlah diperlukan. Agar pemain, pelatih, dan manajemen bisa sejalan.

"Manajemen harus terbuka dan transparan dan duduk bersama dalam menghadapi permasalahan tersebut, lantaran akibat dari mogoknya pemain akan berdampak pada kebugaran pemain dan pertandingan selanjutany," tandasnya. (DANANG/B-11)

Berita Terbaru