Selama Oktober 2019, Penyakit Muntaber di Muara Teweh Meningkat Drastis

  • Oleh Ramadani
  • 15 Oktober 2019 - 18:40 WIB

BORNEONEWS, Muara Teweh - Masuknya musim pancaroba membuat penyakit diare atau muntaber di Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara selama Oktober 2019 meningkat drastis. Ratusan bayi dan anak di bawah lima tahun harus menjalani rawat inap di RSUD Muara Teweh.

Direktur RSUD Muara Teweh Dwi Agus Setijowati melalui Humas RSUD Muara Teweh Agus Redha, Selasa 15 Oktober 2019 mengatakan, jumlah pasien diare atau muntaber khususnya balita meningkat drastis selama Oktober 2019.

Sebagai perbandingan, pada September tercatat 45 pasien muntaber, sedangkan Oktober menjadi 94 pasien. “Hampir semuanya pasien muntaber para bayi. Hanya satu pasien dewasa di ruang Tulip,” ujar Agus Redha di Muara Teweh.

Menurutnya, pasien muntaber berasal dari berbagai kecamatan di wilayah Kabupaten Barito Utara. Peningkatan pasien muntaber membuat pihak RSUD Muara Teweh harus menyediakan tempat tidur ekstra di selasar, karena ruang rawat inap Mawar Kelas III dan II penuh.

“Pagi ini ada 10 pasien muntaber di ruang kelas III diperbolehkan pulang. Tersisa sembilan orang yang masih dirawat,” timpal  seorang petugas medis di Lantai IV RSUD Muara Teweh.

Bagi pasien muntaber yang harus menjalani rawat inap di ruang Mawar Kelas II, karena Kelas III penuh tidak dikenakan biaya tambahan. Mereka membayar sesuai tarif BPJS untuk Kelas III. Begitu pula bagi pasien pemegang Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) tak dipungut biaya.

“Anak saya sudah dirawat dua hari dua malam, karena terserang muntaber. Usianya 10 bulan. Saya disuruh segera membawa ke Muara Teweh, karena kalau terlambat bisa berbahaya. Kami datang dari Benao, Kecamatan Lahei Barat,” ucap warga bernama Sudharto. (RAMADHANI/B-2)

Berita Terbaru