Dokter Amerika Peringatkan Masyarakat Berhenti Gunakan Vape, Ini Alasannya

  • Oleh Tempo.co
  • 18 Oktober 2019 - 06:16 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Asosiasi Dokter Amerika Serikat atau American Medical Association (AMA) memperingatkan masyarakat di sana berhenti menggunakan rokok elektrik dan vape dalam bentuk apa pun.

Peringatan yang dirilis pada Senin lalu itu diberlakukan hingga para ilmuwan menemukan penanganan yang lebih baik pada penyebab 450 penyakit paru-paru dan setidaknya lima kematian yang berkaitan dengan penggunaan rokok elektrik.

Rilis AMA juga meminta para dokter menginformasikan kepada pasien tentang bahaya rokok elektrik, termasuk kandungan racun dan karsinogen. Para dokter juga diminta melaporkan setiap kasus penyakit paru-paru yang diduga berkaitan dengan penggunaan rokok elektrik kepada departemen kesehatan setempat.

Rekomendasi tersebut dibuat mengikuti saran dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) yang dikeluarkan pada Jumat pekan lalu. Masyarakat diminta tidak menggunakan produk-produk rokok elektrik, sementara lembaga ini menyelidiki penyebab serentetan penyakit paru-paru parah yang berkaitan dengan konsumsi vape.

Seperti dikutip dari Reuters, kemarin, pejabat CDC mengatakan banyak kasus penyakit paru-paru yang berkaitan dengan konsumsi vape atau rokok elektrik, serta melibatkan alat yang menguapkan minyak yang mengandung tetrahydrocannabinol (THC), komponen psikoaktif yang terdapat pada ganja. "Beberapa laboratorium telah mengidentifikasi vitamin E asetat dalam sampel produk dan sedang menyelidikinya sebagai kemungkinan penyebab penyakit," ujar pejabat tersebut.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan konsumsi rokok elektrik dan vape meningkat karena dianggap lebih aman daripada rokok konvensional. Namun efek kesehatan jangka panjang dari konsumsi alat ini sebagian besar tidak diketahui. Di Amerika Serikat, Lembaga Administrasi Makanan dan Obat-obatan didorong untuk mengekang lonjakan besar penggunaan rokok elektrik oleh remaja.

"Kita tidak boleh berdiam diri sementara rokok elektrik tidak diregulasi. Kami mendesak FDA mempercepat regulasi rokok elektrik dan menghapus semua produk yang tidak diatur dari pasar," ujar Presiden AMA, Patrice Harris.

Di Indonesia, konsumsi vape pun dilaporkan terus meningkat. Bahkan dalam data yang dipaparkan dalam diskusi Koalisi Nasional Masyarakat Sipil untuk Pengendalian Tembakau pada Jumat pekan lalu di Jakarta disebutkan bahwa satu dari lima pelajar SMA mengkonsumsinya.

Dokter spesialis paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Feni Fitriani Taufik, mengatakan salah satu dampak buruk dari kebiasaan mengkonsumsi rokok elektrik adalah menurunkan sistem kekebalan tubuh. Hal ini disebabkan oleh efek imunosupresif yang terkandung dalam setiap cairan vape. Padahal sistem kekebalan tubuh berfungsi untuk menangkal virus dan bakteri penyebab penyakit. "Akibatnya, pasien akan lebih rentan sakit dan mengalami masalah-masalah kesehatan umum, seperti flu dan batuk," kata Feni.

Feni juga mengatakan vape berbahaya karena dapat menciptakan kecanduan layaknya rokok biasa karena kandungan nikotin di dalamnya. Penggunaan nikotin yang berlebihan mengakibatkan munculnya berbagai masalah kardiovaskular. "Nikotin sangat adiktif. Biasanya mereka juga menyebabkan masalah kesehatan, seperti iritasi paru, serangan jantung, dan stroke."

Berita Terbaru