Pengrajin Mandau Dayak Ini Sukses Jualan Lewat Media Sosial

  • Oleh Agustinus Bole Malo
  • 19 Oktober 2019 - 18:52 WIB

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Mandau merupakan senjata tradisional masyarakat Dayak di Kalimantan. Setiap rumpun suku Dayak memiliki mandau dengan ciri khas tersendiri dalam hal motif, ukuran maupun bentuk, meskipun secara umum memiliki kemiripan.

Kehidupan modern saat ini membuat hampir tidak ada lagi pemuda Dayak Maanyan yang tertarik untuk menjadi pengrajin mandau seperti yang dikerjakan oleh Andreas Edo (29), pemuda Dayak Maanyan dari Desa Tewah Pupuh Kecamatan Benua Lima, Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah.

Saat ditemui Borneonews di bengkel kerjanya, Edo menyampaikan keprihatinannya akan masa depan budaya Dayak Maanyan yang masuk dalam rumpun Dayak Ot Danum ini.

"Saya lihat pemuda dayak tidak terlalu perhatian lagi dengan budaya Dayak khususnya pembuatan mandau, ada anggapan bahwa budaya Dayak itu kampungan, primitif, terbelakang. Padahal di kota-kota besar banyak yang suka budaya Dayak. Banyak yang suka pernak-pernik Dayak bahkan mau belajar tentang Dayak," cerita Edo, Sabtu 19 Oktober 2019.

Karena keprihatinan tadi, sejak 3 tahun lalu Edo mulai menekuni pembuatan mandau untuk ikut melestarikan budaya Dayak Maanyan.

Dia memfokuskan diri pada pembuatan kumpang (sarung) dan hulu (gagang) mandau beserta pernak-pernik lainnya, sedangkan besi mandau dipesan dari pande besi langganannya.

Kendatipun tinggal di desa, mandau-mandau hasil karya Edo sudah dipesan oleh pembeli dari berbagai daerah di Indonesia termasuk di pulau Kalimantan.

Edo menawarkan mandaunya menggunakan akun media sosial Facebook dan Instagram yang dimilikinya, dan cara penjualan seperti ini cukup efektif baginya yang tinggal sejauh 27 Km dari kota kabupaten.

Terbukti dengan mengalirnya pesanan dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari Sarawak Malaysia.

Namun untuk pengiriman ke Malaysia hingga saat ini belum bisa dilayani karena jasa pengiriman tidak ada yang berani menjamin paket sampai ke Malaysia berhubung mandau termasuk dalam kategori senjata tajam.

"Padahal teman saya di Sarawak banyak yang pesan tapi saya tidak tahu bagaimana harus mengatasi karena mengirim senjata tajam ke luar negeri pasti regulasinya berbeda," lanjutnya.

Namun Edo tidak patah semangat, kedepan Dia ingin terus mengembangkan usahanya dengan melengkapi alat-alat produksi dengan mesin potong dan ukir agar dapat meningkatkan produktivitas usahanya dalam menggarap pasar dalam negeri.

Mengantisipasi kelangkaan bahan baku,  Edo juga mulai menanam sendiri kayu ulin, kayu batu dan meranti yang biasa dipakai membuat hulu dan kumpang mandau.

"Saya juga berharap warga asli dayak terutama yang muda-muda, lebih menghargai budayanya dan ikut melestarikan. Sekalipun profesi ini kelihatannya ketinggalan zaman, kalau ditekuni pasti memberikan kita penghasilan," pungkasnya bijak. (AGUSTINUS BOLE MALO/B-6)

Berita Terbaru