Sawit Bisa Penuhi Kebutuhan Minyak Nabati Global

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 04 November 2019 - 10:10 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun -  Saat ini jawaban paling tepat untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia adalah hasil produksi kelapa sawit. Untuk itu perlu adanya kebijakan politik yang mendukung industri sawit nasional.

“Kebutuhan minyak nabati akan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, sehingga Pemerintah Indonesia perlu memikirkan bagaimana agar bisnis itu dapat berjalan dengan baik, selaras dengan program pembangunan untuk kepentingan masyarakat,” kata Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Republik Indonesia Mahendra Siregar dalam acara 15th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2019 and 2020 Price Outlook di Bali akhir pekan lalu.

Menurutnya, saat ini semua negara sedang memikirkan bagaimana pemanfaatan secara maksimal dalam menggunakan sumber energi yang dapat diperbarui. Karena itu antara jumlah produksi minyak nabati dan kebutuhan konsumen masih belum berimbang, sedangkan tiap tahun kebutuhannya pasti akan terus bertambah.

Selain itu, permasalahan lainnya kondisi lahan untuk menanam sangat terbatas, sehingga satu-satunya jawaban atas pemenuhan kebutuhan minyak nabati itu adalah kelapa sawit.

“Kalau selain sawit, ketika ingin mendapatkan hasil produksinya yang sama maka kemungkinan tanaman lainnya memerlukan tiga sampai lima kali luas kawasan dari kebun sawit. Sehingga bersyukur bahwa Indonesia memiliki kebun sawit sebagai solusinya,” ucap mantan Wakil Menteri Perdagangan itu.

Sementara itu, untuk ekspor sendiri, Mahendra menilai negara-negara Asia Selatan seperti India dan Pakistan merupakan salah satu pasar ekspor yang cukup besar. Artinya, pemerintah perlu mendorong untuk menjalin kemitraan dan kerjasama terhadap negara-negara yang memiliki potensi pasar tersebut.

Pihaknya pasti akan mendorong upaya-upaya agar pemenuhan kebutuhan minyak nabati dapat terus berkembang.

“Yang perlu diketahui adalah, pasar sawit dunia yang terbesar saat ini adalah Indonesia, di mana kebutuhan mencapai 13 juta ton per tahun dan akan terus meningkat, baru India menyusul dengan jumlah kebutuhan 10 juta per tahun,” jelasnya.

Oleh sebab itu, Indonesia harus memenuhi kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu, baru kemudian untuk ekspor.

“Lima sampai 10 tahun mendatang, kemungkinan 50 persen dari hasil produksi sawit hanya akan dikonsumsi dalam negeri. Baru sisanya kita ekspor, ini merupakan salah satu strategi penguatan ekonomi bangsa Indonesia ke depan,” ujarnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)

Berita Terbaru