PTPN V Bidik Standar Karbon Internasional 100%

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 09 November 2019 - 06:00 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Demi menunjukkan diri sebagai perusahaan perkebunan berkelanjutan, PT Perkebunan Nusantara V menargetkan meraih standar karbon internasional (International Sustainability & Carbon Certification/ISCC) untuk seluruh unit pabrik hingga 100 persen.

"Kami berkomitmen untuk terus menekan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari seluruh rangkaian kegiatan produksi perkebunan sawit. Sertifikasi ISCC ini menunjukkan bahwa produk yang kami hasilkan telah memenuhi standar energi terbarukan Uni Eropa (UE Renewable Energy Directive), serta komitmen kami sebagai produsen CPO yang bertanggung jawab terhadap lingkungan," kata Direktur Utama PTPN V, Jatmiko Krisna Santosa, di Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Jatmiko menjelaskan PTPN V telah mengaplikasikan standar sawit berkelanjutan berupa Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) dan ISCC untuk menembus ekspor sawit ke Eropa.

Menurut dia, tidak ada cara lain bagi PTPN V untuk terus menekan limbah produksi dan emisi gas rumah kaca dengan cara memanfaatkan seluruh bagian dari proses produksi sawit, salah satunya menjadikannya sebagai energi.

"Seperti diketahui dari 100 ton kelapa sawit, hanya 24 persen saja yang dapat dimanfaatkan menjadi minyak sawit mentah atau CPO, sedangkan sisanya berupa serat, cangkang, limbah cair, gas metan harus dicarikan solusinya," kata Jatmiko saat tampil sebagai pembicara dalam seminar ILCAN Conference Series on Life Cycle Assessment mengenai pengelolaan kebun berkelanjutan.

Salah satu yang tengah dimanfaatkan adalah limbah cair yang diolah menjadi gas metan untuk pembangkit listrik. Sampai saat ini produksi listrik itu masih dipergunakan untuk mendukung produksi perusahaan.

Dengan mengadopsi teknologi ramah lingkungan ini, produsen CPO akan mendapatkan tambahan insentif sebesar 12 sampai 13 dolar AS per ton di pasar Eropa.

"Jadi pemanfaatan gas metan ini selain dapat menekan biaya juga mendapat nilai tambah," ujar dia.

Jika mengacu pada energi yang dihasilkan melalui teknologi bio gas ini, katanya, perusahaan mendapatkan tambahan pendapatan Rp 34 miliar per tahun dari Insentif penjualan CPO bersertifikat.

Jatmiko juga menyampaikan PTPN V saat ini memiliki lahan seluas 86 ribu hektar tersebar di lima kabupaten Provinsi Riau yang menghasilkan 500 ribu ton CPO per tahun.

Berita Terbaru