Rupiah Awal Pekan Masih Lanjut Terkoreksi

  • Oleh ANTARA
  • 11 November 2019 - 11:56 WIB

Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan ini masih terkoreksi setelah pada akhir pekan lalu ditutup melemah.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih di Jakarta, Senin, mengatakan meski melemah, rupiah hari ini berpotensi menguat seiring apresiasi mata uang kuat Asia

"Pagi ini mata uang kuat Asia Yen dan dolar Hong Kong dibuka menguat terhadap dolar AS yang bisa menjadi sentimen penguatan rupiah hari ini," ujar Lana.

Dari domestik, neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal III-2019 membaik dengan defisit 46 juta dolar AS, turun dibandingkan defisit pada kuartal II-2019 sebesar 2 miliar dolar AS.

Penurunan defisit tersebut karena defisit neraca transaksi berjalan yang turun diimbangi transaksi modal dan finansial yang surplus.

Defisit neraca transaksi berjalan tercatat sebesar 7,7 miliar dolar AS atau 2,7 persen dari PDB, di bawah defisit pada kuartal II-2019 yang mencapai 8,2 miliar dolar AS atau 2,9 persen dari PDB.

Perbaikan itu dipengaruhi oleh impor migas yang turun karena mulai efektifnya kebijakan pengendalian impor, termasuk program B20.

Sementara itu surplus transaksi modal dan finansial pada tercatat sebesar 7,6 miliar dolar AS, lebih tinggi dari surplus kuartal II-2019 sebesar 6,5 miliar dolar AS.

Kenaikan tersebut karena investasi portofolio, penarikan neto pinjaman luar negeri sektor swasta, sedangkan utang luar negeri pemerintah tercatat pembayaran neto.

Bank Indonesia memproyeksikan kinerja NPI akan membaik didukung dengan defisit transaksi berjalan yang terjaga di kisaran 2,5-3 persen dari PDB.


TAGS:

Berita Terbaru