Tari Manganjan Jadi Daya Tarik Tradisi Mapakanan Sahur dan Mamapas Lewu

  • Oleh Muhammad Hamim
  • 12 November 2019 - 14:26 WIB

BORNEONEWS, Sampit - Ritual adat tari manganjan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang datang saat digelarnya tradisi mapakanan sahur dan mamapas lewu di Taman Miniatur Budaya, Kabupaten Kotawaringin Timur. 

Para pejabat, masyarakat, dan juga wisatawan yang datang ikut larut saat melaksanakan tarian tersebut. Mereka menari sambil mengelilingi tiga bangunan sandung, dengan diiringi lantunan musik yang keluar dari alat tradisional. 

Ada puluhan pengunjung yang ikut menari, sambil diberikan tampung tawar oleh sejumlah pemuda dan juga meminum minuman khas asli dayak atau dikenal dengan baram. Tidak hanya itu, para penari juga diberikan contreng menggunakan kapur berwarna putih. 

"Seluruh prosesi yang dilakukan adalah upaya untuk melestarikan budaya daerah ini. Dengan harapan para pemuda di Kotim bisa mengetahui budaya leluhur," terang Halikinnor, usai menari manganjang, Selasa, 12 November 2019. 

Tari Manganjan sendiri merupakan ritual yang biasanya dilaksanakan pada upacara tiwah di Suku Dayak Ngaju. Yang pertama menyimbolkan manduan berkat dengan makna yakni  pengambilan energi spiritual sebagai kekuatan melepaskan roh. Kedua yakni malapas pali adalah penyerahan roh ke sorga. Dan ketiga yakni mangambali akan biti, berartikan  terlepasnya pantangan yang disebabkan oleh kematian.

Sedangkan simbol musik yang digunakan saat tarian tersebut adalah kebahagiaan atau sukacita manusia dengan manusia. Adapun simbol busana yang digunakan dengan kain diikatkan di pinggang yaitu baju sangkarut, adalah simbol kekuatan spiritual atau energi gaib. 

Sementara selendang yang dipakai memiliki simbol keluhuran dan keagungan, dalam masyarakat suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah.

Tarian tersebut sendiri dilakukan dengan waktu yang tidak ditentukan. Sebelum dilakukan melarung sangkurup jatha ke Sungai Mentaya. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)

Berita Terbaru