Wisatawan Belanda Saksikan Tradisi Mapakanan Sahur dan Mamapas Lewu di Sampit

  • Oleh Muhammad Hamim
  • 12 November 2019 - 14:56 WIB

BORNEONEWS, Sampit - Wisatawan asal Belanda menyaksikan tradisi mapakanan sahur dan mamapas lewu yang digelar di Taman Miniatur Budaya Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Selasa, 12 November 2019. 

Mereka yakni Lena Anamova dan anaknya Arbainah Van Den Berer. Mereka mengaku senang bisa menyaksikan langsung tradisi budaya tersebut. Karena sangat murni dan asli, tanpa tercampur dengan budaya moderen saat ini. 

"Budaya ini sangat tradisional dan natural dan tidak tercampur dengan budaya moderen. Walaupun dikemas menjadi ivent pariwisata," ujar Lena, kepada wartawan, usai menyaksikan tradisi tersebut, Selasa, 12 November 2019. 

Dirinya berharap agar tradisi tersebut terus dilestarikan. Jangan sampai diubah atau dicampur adukan dengan budaya moderen. Karena hal itulah yang menjadi daya terik bagi wisatawan untuk menyaksikan. 

"Tradisi seperti harus benar-benar dijaga, jangan sampai dicampur dengan budaya moderen," kata Lena. 

Dirinya juga mengatakan bahwa tradisi ini sangat menarik disaksikan. Bahkan saat menaripun dirinya ikut larut, dan semangat mengikuti sejumlah prosesi dalam ritual adat tersebut. 

Lena juga mengaku bahwa sudah mengunjungi sejumlah kecamatan di Kotim, seperti Antang Kalang. Untuk melihat langsung budaya dayak di daerah tersebut. 

Dirinua datang ke daerah tersebut juga untuk mengunjungi para karabatnya. Karena ia memiliki darah orang dayak, namun sudah lama tinggal di Belanda. 

"Ibu saya asli orang Dayak. Namun orangtua suami saya asli Belanda. Sehingg saya tinggal di Belanda dan menetap sebagai warga negara Belanda," kata Lena. 

Setelah datang ke Kotim, dirinya akan melanjutkan perjalanan ke Banjarmasin, setelah itu ke Ambon, dan ke Bali. Mereka ingin mendatangi sejumlah tempat wisata yang ada di Indonesia ini. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)

Berita Terbaru