Timor Leste Peringati Tragedi Santa Cruz

  • Oleh Teras.id
  • 13 November 2019 - 23:36 WIB

TEMPO.CO, Dili -  Masyarakat Timor Leste dan komunitas internasional tidak akan melupakan tragedi Santa Cruz pada waktu itu. Dengan tragedi ini membangunkan PBB dan komunitas internasional tentang perjuangan di Timor Leste untuk merdeka menjadi sebuah negara baru.

Sejak tahun 1974 sampai 1975 komunitas internasional terutama PBB menutup mata dan telinga mereka untuk tidak melihat dan mendengar tentang apa yang terjadi di Timor Leste. Seluruh dunia dan PBB sengaja tidak mau tahu perjuangan Timor Leste.

Selama 24 tahun orang Timor Leste susah. Ribuan orang mati secara terus-menerus. Militer Indonesia melakukan penyiksaan dan pemerkosaan kepada pemuda-pemudi sesuka mereka, dan seluruh dunia menutup mata dan telinga mereka. Mereka bilang perjuangan kemerdekaan di Timor Leste sudah tidak ada lagi, sudah selesai. Timor Leste sudah mau hidup bersama dengan Republik Indonesia.

Tiba-tiba pintu gerbang PBB dan komunitas internasional hancur terbuka lebar dengan tragedi 12 November 1991. Pemuda-pemudi Timor Leste membangunkan PBB. Menggunakan kesempatan menabur bunga di makam Sebastião Gomes di Santa Cruz, Dili, ribuan pemuda-pemudi menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa proses perjuangan kemerdekaan di Timor Leste masih berlanjut dan masih ada. Timor Leste tidak mau hidup bersama dengan Indonesia.

Timor Leste tidak pernah kalah. Perjuangan kemerdekaan mulai terjadi di berbagai tempat. Baik di pegunungan maupun di dalam kota. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pemuda Loriku Aswain pada 12 November 12 membuka dada mereka kepada peluruh panas. Mereka semua tidak takut. Mereka semua tidak kejut dengan bunyi senjata laras panjang. Butir peluruh tentara Indonesia menembus pagar Santa Cruz, pemuda banyak yang mati, tetapi tetap berteriak “mati atau hidup harus merdeka”.

Pada bulan Oktober 1991, sebuah delegasi yang terdiri dari anggota parlemen Portugal dan 12 orang wartawan dijadwalkan akan mengunjungi Timor Timur. Para mahasiswa telah bersiap-siap menyambut kedatangan delegasi ini. Namun rencana ini dibatalkan setelah pemerintah Indonesia mengajukan keberatan atas rencana kehadiran Jill Jolliffe sebagai anggota delegasi itu. Jolliffe adalah seorang wartawan Australia yang dipandang mendukung gerakan kemerdekaan FRETILIN.

Pembatalan ini menyebabkan kekecewaan mahasiswa pro-kemerdekaan yang berusaha mengangkat isu-isu perjuangan di Timor Timur. Kekecewaan ini menyebabkan situasi memanas antara pihak pemerintah Indonesia dan para mahasiswa. Puncaknya pada tanggal 28 Oktober, pecah konfrontasi antara aktivis pro-integrasi dan kelompok pro-kemerdekaan yang pada saat itu tengah melakukan pertemuan di gereja Motael Dili.

Pada akhirnya, Afonso Henriques dari kelompok pro-integrasi tewas dalam perkelahian dan seorang aktivis pro-kemerdekaan, Sebastião Gomes yang ditembak mati oleh tentara Indonesia.

Pada tanggal 12 November 1991, para demonstran yang terdiri dari mahasiswa dan pemuda mengadakan aksi protes mereka terhadap pemerintahan Indonesia pada prosesi penguburan rekan mereka, Sebastião Gomes. Dalam prosesi pemakaman, para mahasiswa menggelar spanduk untuk meminta penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan, menampilkan gambar pemimpin pro-kemerdekaan Xanana Gusmão.

Pada saat prosesi tersebut memasuki kuburan, pasukan Indonesia mulai menembak. Dari orang-orang yang berdemonstrasi di kuburan Santa Cruz, 271 tewas, 382 terluka, dan 250 menghilang. Salah satu yang meninggal adalah seorang warga Selandia Baru, Kamal Bamadhaj, seorang pelajar ilmu politik dan aktivis HAM berbasis di Australia.

Berita Terbaru