Indonesia Gelar Diplomasi Sawit di Belanda

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 26 November 2019 - 09:10 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Upaya diplomasi perlu terus dilakukan secara strategis untuk mengkampanyekan kelapa sawit Indonesia yang menunjang pembangunan berkelanjutan, dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan. 

Kali ini Indonesia melibatkan para WNI yang bermukim di luar negeri, termasuk mahasiswa, profesional, dan diaspora Indonesia, antara lain di Belanda.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Multilateral Kementerian Luar Negeri Dindin Wahyudin, dalam Dialogue on Sustainable Palm Oil yang diselenggarakan di KBRI Den Haag, Belanda, akhir pekan lalu. 

Menurut Dindin, berbagai pihak Uni Eropa terus meluncurkan kampanye hitam dan informasi yang menyesatkan mengenai industri kelapa sawit Indonesia, termasuk di dalam berbagai forum PBB dan multilateral lainnya.

Padahal pemerintah Indonesia bersama dengan kalangan swasta dan para petani telah mengambil langkah-langkah agar industri sawit Indonesia menjadi lebih berkelanjutan melalui berbagai cara, antara lain memenuhi sertifikasi RSPO dan ISPO.

Pemerintah juga telah mengeluarkan peraturan moratorium pembukaan lahan bagi perkebunan kelapa sawit, intensifikasi produktivitas kelapa sawit yang ada, hingga mendorong implementasi sistem zero waste management.

Minyak kelapa sawit merupakan komoditas strategis bagi Indonesia. Kelapa sawit menjadi sumber kehidupan bagi para petani kecil yang mencakup 42 persen dari total kepemilikan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Industri kelapa sawit juga menciptakan peluang kerja bagi 17 juta orang.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Jambi Dr. Forst. Bambang Irawan, yang juga menjadi pembicara pada kegiatan tersebut menyampaikan bahwa industri kelapa sawit terbukti secara ilmiah memiliki dampak positif pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan serta pengentasan kemiskinan bagi masyarakat pedesaan di Indonesia.

Industri minyak sawit Indonesia merupakan 54 persen dari total pasokan minyak bersertifikasi di dunia. Di Indonesia, industri kelapa sawit setidaknya mendukung pencapaian delapan dari tujuh belas Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

(NEDELYA RAMADHANI/m)

Berita Terbaru