Arkeolog Papua Temukan Bukti Hunian Prasejarah di Danau Sentani

  • Oleh Tempo.co
  • 07 Desember 2019 - 12:36 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Arkeolog dari Balai Arkeologi Papua Hari Suroto melakukan penelitian untuk mengungkap jejak hunian awal prasejarah di kawasan Danau Sentani bagian barat. Hari dan timnya menemukan beberapa bukti untuk mendukung adanya aktivitas menarik di kawasan tersebut.

“Jadi pada masa prasejarah, manusia yang hidup dan membuat hunian di Danau Sentani tidak hanya beraktivitas di danau saja. Mereka juga beraktivitas hingga pesisir pantai,” ujar Hari kepada Tempo melalui pesan pendek, Jumat malam, 6 Desember 2019. “Untuk menuju pantai, mereka menyusuri Sungai Jaifuri yang merupakan muara Danau Sentani dan langsung terhubung ke Samudera Pasifik.”

Hari merupakan ketua dari penelitian tersebut dengan beranggotakan delapan peneliti, yaitu Gusti Made Sudarmika, Bambang Budi Otomo, Paul Yaam, Elvis Kabey, Eni Lestari, Irmawati, Esau Ohee dan Cory Ohee. Tim menemukan Situs Yomokho di Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, yang merupakan kawasan Danau Sentani bagian barat.

Situs Yomokho merupakan situs hunian Neolitik di tepi Danau Sentani. Dalam penelitian ini, selain ditemukan gigi manusia, juga ditemukan pecahan gerabah, tulang, gigi babi, tulang ikan, arang, kapak batu, obsidian dan alat batu tokok sagu.

Berdasarkan data arkeologi yang ditemukan menunjukkan bahwa pada masa lalu, manusia yang tinggal di Situs Yomokho mengolah dan mengkonsumsi sagu. Kapak batu untuk menebang pohon sagu, alat batu untuk menokok sagu, dan gerabah digunakan sebagai wadah untuk mengolah sagu menjadi papeda. Sebagai sumber protein, mereka hidup berburu babi di hutan dan menangkap ikan di Danau Sentani.

Untuk mengetahui bentuk kehidupan masa lalu di Situs Yomokho, tim peneliti mengaitkan konteks artefak dengan lingkungan. “Situs Yomokho menggambarkan adaptasi manusia terhadap lingkungan. Pemilihan lokasi sebagai hunian berkaitan dengan keberadaan Danau Sentani yang menghasilkan sumber pangan diantaranya siput danau dan ikan, sumber air bersih, serta di tepi Danau Sentani terdapat hutan sagu,” kata Hari.

Hasil survei permukaan tanah dan ekskavasi di Situs Yomokho, Hari menemukan artefak gerabah lebih banyak ditemukan di lereng bukit. Hal ini menunjukkan bahwa manusia prasejarah Situs Yomokho memilih lereng bukit sebagai lokasi hunian,  karena didasarkan pada banyaknya pecahan gerabah serta cangkang siput danau.

Gigi babi mengindikasikan bahwa hunian prasejarah berburu babi untuk di makan. Menurut Kal Muller (2008) dan Peter Bellwood (1978), bisa dipastikan bahwa babi - bersama anjing dan ayam - dibawa masuk ke Papua oleh penutur Austronesia pada 1.500 hingga 1.000 SM.

“Temuan arkeologi di lereng Bukit Yomokho juga mengindikasikan bahwa pada masa lalu, hunian berada di lereng bukit berupa rumah panggung. Hal ini didasarkan pada temuan arkeologi yang banyak didapatkan di permukaan tanah lereng bukit,” tutur Hari.

Temuan cangkang moluska laut merupakan sisa makanan manusia prasejarah yang pernah menghuni Situs Yomokho. Jarak Situs Yomokho dengan laut sekitar 35,9 kilometer sebelah timur. “Temuan cangkang moluska laut di danau air tawar sangat spesial, ini mengindikasikan bahwa telah terjadi kontak antara masyarakat Danau Sentani dengan masyarakat pesisir pantai,” tutur Hari.

Berdasarkan konteks temuan berupa pecahan gerabah, mengindikasikan moluska laut ini diolah dengan cara dimasak dalam gerabah. “Temuan cangkang moluska laut juga didukung oleh temuan hasil ekskavasi di Situs Yomokho berupa batu obsidian. Batu obsidian berasal dari Pulau Manus, Britania Baru, sebelah utara Papua Nugini,” lanjut Hari.

Gigi manusia juga didapatkan dalam ekskavasi kotak YMK/STN/KT1 pada kedalaman 110 cm. Berdasarkan analisis Marlin Tolla dari Max Planck Institute Jerman, gigi yang ditemukan berdasarkan bentuk mahkota dan akarnya merupakan gigi manusia prasejarah. 

Selain itu ada situs Yope, temuan bandul jala juga membuktikan bahwa manusia penghuni Yope, wilayah sekitar Danau Sentani pada masa lampau beraktivitas menjala ikan. Sebelum dikenal jala modern, masyarakat Sentani membuat jala dari pintalan serat kulit pohon melinjo.

“Lingkungan sekitar Yope juga dikenal sebagai daerah habitat buaya Nugini (Crocodylus Novaeguineae). Sehingga gerabah motif buaya yang ditemukan dapat diasumsikan bahwa gerabah itu dibuat di Yope,” tutur Hari.

Berita Terbaru