CEO CBI Group Apresiasi Kunjungan Tim PPN/Bappenas ke Kawasan Industri SBI Tempenek

  • Oleh Wahyu Krida
  • 09 Desember 2019 - 16:26 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Selaku investor yang membuka kawasan industri hilir produk turunan kelapa sawit, CEO Citra Borneo Indah (CBI) Group Rimbun Situmorang mengapresiasi kunjungan dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) ke kawasan industri Surya Borneo Industri (SBI) Tempenek, Kecamatan Kumai, Senin, 9 Desember 2019.

"Di kawasan seluas 160 hektare ini ada beberapa industri hilir produk turunan kelapa sawit. Artinya kita memberikan nilai tambah dari produk kelapa sawit dengan membuat produk jadi  dan tidak hanya megekspor bahan baku saja," jelasnya.

Menurut Rimbun, inilah yang menjadi salah satu tujuan tim PPN/Bappenas datang ke Kalteng yaitu ke Kobar untuk mengetahui apa saja yang dibutuhkan daerah untuk mewujudkannya.

"Tadi saat pemaparan di hadapan tim PPN/Bappenas, bupati dan kami menyampaikan bila hal ini mau diwujudkan, maka keberadaan infastruktur berupa jalan, pelabuhan, bandara dan lainnya sangat diperlukan," jelasnya.

Pihaknya juga menyampaikan bagaimana diperlukannya pengerukan muara Sungai Kumai, sebab saat ini kondisi bottleneck masih merupakan kendala dalam pelayaran.

"Bukan hanya itu saja. Tentunya bila mengundang investor ke Kobar diperlukan adanya akomodasi yang representatif. Maka itulah kami membangun hotel sebagai sarana pendukung terjadinya kerjasama bisnis antara investor dan daerah," jelasnya.

Sehingga menurut Rimbun, dalam kerangka berpikir untuk pembangunan daerahnya itulah seorang putra daerah yaitu H. Abdul Rasyid AS rela menginvestasikan modalnya di daerahnya sendiri.

"Bila ditanyakan apakah secara ekonomis investasi ini sudah profitable  atau memberikan keuntungan maka jawabannya belum. Lantaran banyak hal yang harus kita buat sendiri, di antaranya power plant untuk kebutuhan industri kita. Semangat yang dimiliki oleh Pak H. Abdul Rasyid AS inilah yang masih belum dimiliki oleh investor lain. Karena bila mereka ingin berinvestasi di suatu daerah tentunya pertanyaan awal.yang diajukan adalah fasilitas apa yang didapatkan di daerah," jelasnya.

Menurutnya dengan membuat segala sesuatunya sendiri, maka secara bisnis hal ini bakal mempengaruhi harga pokok produksi.

"Lantaran untuk melakukan sebuah produksi diperlukan high cost atau biaya tinggi. Bila pemeritah bisa memfasilitasi hal ini, maka perusahaan yang ada di Kobar ini bisa menjadi kompetor bagi industri lain yang selama ini berpusat di Pulau Jawa," jelasnya.

Menurut Rimbun, cost produksi bisa diturunkan bila pemerintah memberikan insentif yang mendukung tumbuhnya dunia industri.

"Bila insentif bisa kita dapatkan, sebagai timbal baliknya pemerintah bisa memanfaatkan akses berlebih yang dimiliki investor," jelasnya. (WAHYU KRIDA/B-6)

Berita Terbaru