Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Pesawaran Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Suhu Panas Australia Pekan Depan Bisa Cetak Rekor

  • Oleh Inilah.com
  • 15 Desember 2019 - 10:42 WIB

INILAHCOM, Sydney - Para peramal cuaca menyebut Australia kemungkinan akan mengalami hari paling panas sepanjang sejarah pekan depan, ketika gelombang panas di bagian barat bergerak menuju wilayah timur negara itu.

Badan meteorologi negara itu memperkirakan suhu akan melampaui 40 derajat Celcius di sebagian wilayah Australia, mulai Rabu pekan depan 18 Desember 2019.

Rekor suhu terpanas di Australia sejauh ini tercatat 50,7 derajat Celcius di kawasan pedalaman Oodnadatta, Negara Bagian South Australia yang terjadi pada 2 Januari tahun 1960. Oodnadatta terletak sekitar 800 kilometer dari Adelaide, ibu kota Negara Bagian South Australia.

"Kami memperkirakan terjadinya kondisi cuaca sangat panas pekan depan yang berpotensi memecahkan rekor di sejumlah kawasan di seluruh Australia bagian selatan selama tujuh hari mendatang," kata Diana Eadie, pakar cuaca dari badan meteorologi Australia seperti dilansir ABC.

Menurutnya mungkin saja Australia akan mengalami suhu tertinggi sepanjang catatan sejarah. "Kita kemungkinan akan mengalami suhu di atas 45 derajat Celcius di banyak wilayah mulai Rabu depan," tambahnya.

Untuk mengantisipasi suhu terpanas itu, pihak berwenang mengeluarkan peringatan kemungkinan terjadinya kebakaran di sebagian wilayah Negara Bagian Western Australia dan Queensland.

Di Perth, ibu kota Negara Bagian Western Australia, suhu diperkirakan mencapai 41 derajat Celcius pada hari Minggu 15 Desember 2019.

Suhu amat panas kemungkinan besar akan berlanjut di sebagian wilayah Negara Bagian Western Australia dan juga terjadi di sebagian besar wilayah Negara Bagian South Australia.

Di Kota Adelaide, suhu diperkirakan mencapai 40 derajat Celcius pada Selasa pekan depan (17/12/2019), dan 42 derajat Celcius pada Jumat pekan depan 20 Desember 2019.

Dalam beberapa bulan terakhir, Australia mengalami kebakaran dan menurut para ilmuwan, musim kebakaran di negara itu berisiko semakin panjang dan intens akibat perubahan iklim.

Berita Terbaru