Susi Pudjiastuti: Ongkir Benih Lobster Bisa Dua Sepeda Brompton

  • Oleh Tempo.co
  • 15 Desember 2019 - 21:46 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Bekas Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengungkap tingginya ongkos kirim benih lobster. Belakangan, rencana diizinkannya penjualan benur lobster menjadi perdebatan di masyarakat.

"Nah tahu kan sekarang! Ongkos kirim saja dapat satu sampai dengan dua Brompton," cuit Susi dalam akun twitter @susipudjiastuti, Ahad, 15 Desember 2019. Brompton adalah salah satu merek sepeda lipat mewah yang juga jadi perbincangan karena sempat ada kasus kargo gelap pesawat Garuda Indonesia beberapa waktu belakangan.

Cuitan itu adalah lanjutan dari unggahan Susi sebelumnya. Ia sempat membeberkan sebuah isi pesan whatsapp mengenai tarif penyelundupan benih lobster, antara lain Rp 85 juta per koper untuk wilayah Jambi, Rp 115 juta per koper untuk Jakarta, Rp 100 juta per koper untuk Surabaya. "Per koper 30 ribu ekor baby lobster," tulisnya.

Sebelumnya, Susi Pudjiastuti juga membandingkan nilai penyelundupan benih lobter dengan kasus Harley Davidson dan sepeda Brompton.  "Sekarang baru tahu kan bibit lobster ukurannya lebih gede dari Harley," cuit Susi dalam akun twitter resminya @susipudjiastuti, Sabtu, 14 Desember 2019.

Cuitan itu diunggah setelah sebelumnya ia membagikan tautan berita mengenai Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan yang menduga ada aliran dana luar negeri untuk pengepul benur lobster sebesar Rp 300-900 miliar.

Susi lantas mencuitkan perbandingan penyelundupan satu backpack bibit lobster dengan motor gede dan sepeda mewah tersebut. Ia menyebut satu backpack bibit lobster dengan isi kurang lebih 8.000 ekor nilainya sama dengan dua unit Harley atau 60 unit Brompton.

Padahal, ujar dia, kalau bibit tersebut tidak diambil dan dibiarkan besar di laut, maka nilai tersebut akan berlipat ganda. Ia mengatakan lobester yang telah tumbuh dewasa tersebut minimal bisa senilai 20 unit Harley atau setara dengan 600 sepeda Brompton.

"Tidak usah kasih makan, Tuhan yang memelihara, manusia bersabar dan menjaga pengambilannya, Tuhan lipat gandakan," tutur Susi.

Sebelumnya, Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Kiagus Ahmad Badaruddin mengatakan selama 2019, PPATK berperan dalam berbagai pengungkapan perkara, termasuk penyelundupan benih lobster.

"Dalam setahun aliran dana dari luar negeri yang diduga digunakan untuk mendanai pengepul pembeli benur tangkapan nelayan lokal mencapai Rp 300 miliar hingga Rp 900 miliar," kata Badaruddin di kantor PPATK Jakarta, Jumat, 13 Desember 2019.

Berita Terbaru