Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Bengkulu Utara Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Kisah Ibu Tri Sumarni Mengasuh Dua Anak Autisme

  • Oleh Teras.id
  • 24 Desember 2019 - 21:50 WIB

TEMPO.CO, Yogyakarta - Tri Sumarni berbagi kisah mengasuh tiga anak perempuan yang dua di antaranya autisme. Lintang, anak sulungnya duduk di kelas XII dan tahun depan bersiap masuk ke perguruan tinggi. Anggita dan Diva masing-masing kelas VI dan IV belajar di sekolah luar biasa (SLB) yang berbeda. Oleh dokter, keduanya didiagnosis mempunyai gangguan sensor integrasi dengan tingkatan yang berbeda.

"Anggita dan Diva mengalami gangguan verbal. Tidak bisa bicara," kata Tri Sumarni saat menyampaikan kisahnya dalam bedah buku berjudul Semua Anakku Tembus UGM di acara Jadi Positive Fighter: Dare to Change Society di Gedung Jogja National Museum (JNM) Yogyakarta, Jumat, 20 Desember 2019.

Tri Sumarni mengatakan butuh pengawasan 24 jam bagi keduanya yang sudah akil baliq. Bangun tidur pukul 02.30, dia memulai rutinitas bersama tiga anaknya. Setidaknya perlu waktu 3 sampai 4 jam untuk mempersiapkan dua anaknya sampai benar-benar bangun. "Anak saya kalau tidur ngompol. Jadi setiap hari harus menjemur kasur," kata Tri.

Meski mengalami gangguan sensor integrasi, Anggita dan Diva mempunyai karakter spesifik yang berbeda. Diva misalnya, punya kebiasaan menghilang. Tiba-tiba pergi dari sekolah, dari rumah, tanpa berpamitan. Tak ada yang bisa melacak keberadaannya ketika menghilang. Polisi sempat menjadi langganan Tri untuk mengadu dan meminta bantuan mencari anaknya.

"Gangguan sensor integrasi membuat dia sering berpetualang. Kadang kalau dibonceng sepeda motor tiba-tiba melompat. Terus lari," kata Tri. Kejar-kejaran di jalan pun sekali dua kali dialami Tri dan Diva. Teriakan Tri meminta tolong kepada pengendara atau orang di sekitarnya terkadang tidak digubris. Jarang sekali ada yang berempati mengulurkan tangan. "Mereka umumnya hanya menonton seperti melihat adegan di sinetron."

Gangguan itu juga membuat Diva sensitif terhadap sentuhan atau apapun yang dilekatkan pada tubuhnya. Termasuk urusan memakai baju. Butuh waktu berjam-jam untuk memastikan pakaian yang dikenakan membuatnya nyaman. "Kalau tidak nyaman, ya dilepas. Bahkan untuk sekadar dikeramasin rambutnya, Diva suka mengamuk," kata Tri.

Saran beberapa teman untuk memasang identitas, seperti gelang bertuliskan nama, alamat rumah, dan telepon atau identitas yang ditempelkan pada pakaiannya menjadi hal yang muskil. Cara termudah yang memungkinkan saat ini adalah mengunci dia di dalam kamar setiba di rumah.

Beda lagi dengan Anggita. Menurut Tri Sumarni, Anggita mesti diawasi pernah menggunting rambut kakaknya sampai hampir gundul. "Handphone, televisi dimandiin," ucap Tri.

Tri Sumarni mengatakan sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah saat ini belum sepenuhnya tepat bagi kedua anaknya. Semisal, Anggita bisa disekolahkan di sekolah inklusi agar bisa belajar bersosialisasi. Hanya saja, belum ada metode pengajaran yang tepat untuknya. Diva sulit jika masuk ke sekolah inklusi, karena kerap menghilang. "Kebutuhan setiap anak autisme berbeda. Tapi metode yang diterapkan di sekolah sama," kata Tri.

Sementara hak dan kebutuhan difabel sudah diatur dalam Undang-undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Pun di DI Yogyakarta sudah ada Peraturan Daerah DI Yogyakarta Nomor 4 Tahun 2012 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas. Termasuk aturan Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Namun Tri punya sikap sendiri untuk mengatasi persoalannya. "Saya menyuarakan keprihatinan melalui buku," kata Tri.

Berita Terbaru